Di satu tempat yang tak pernah kau kunjungi
Di lorong waktu yang tak pernah kau lalui
Di situ cerita ini mengalun
Mengabarimu berjuta salam tentang kehidupan…!!!

***

Wewangian getah ’Dreytif’—pohon hutan itu menghambur di lembar udara pagi. Lelaki itu melangkah… menatap rumput hijau dan kerikil kecil di setapak jalan. Kicau burung-burung mengiringi langkah lambannya, suara mereka berisik tapi anggun memberi kehangatan tak terputus pada hati lelaki itu. Mereka terbang bermain di dahan ’Dreytif’ mengoyangkan tumpukan-tumpukan embun dan menetesi rambut tebal lelaki itu Begitupun sweater biru mudanya basah di bagian bahu dan lengannya. Sesekali ia gosokkan kedua telapak tangan untuk mengusir dingin yang menggigilkan tubuh. Ia mematung untuk sesaat, karena menatap seekor ’Gnalpin’ jantan yang berlarian terkejut menatap lelaki itu. Lelaki itu kemudian berhenti melangkah, mengamati bekas tapak hewan bertanduk dengan cabang-cabang tajamnya. Kemudian ia menengadah menanti embun untuk ikut menyentuh wajahnya. ’Ah, seharian perutku keroncongan’ ia menggumam. Dan mengingat kembali mengapa ia harus melarikan diri dari kemewahan dan kekayaan orang tua yang merawatnya. Lelaki itu kelelahan, ya lalaki itu ”Kraghtino sruption” sebuah nama dari keluarga terpandang clan ”Bertiona” dan kini ia telah menjadi seorang pengelana.
Mimpi dan ketakutan telah membawanya kesini, tempat dimana hutan telah memberinya sedikit ketenangan. Hutan yang ber kilo-kilometer jauhnya dari rumah yang dulu ia tempati. Dan Kragh selalu akan berjalan mencari angan dan mimpi yang belum ia temukan, hutan ini hanya persinggahan sementara, ia masih harus berjalan menghindari para anak buah ayahnya yang takkan segan-segan membunuhnya. Ia melanjutkan langkah berjalan sejauh mungkin, bersembunyi sedalam mungkin.
Kragh meneruskan perjalanannya, dan sampailah dia di sebuah ngarai yang curam. Sinar matahari yang baru terbit tampak indah sekali di seberang sana–menghentikan langkahnya. Ia kemudian menikmati sinar emas itu dari pinggir ngarai. Ah… sebuah keindahan yang begitu mempesona. Warna emas berpadu putih dan hangat mentari yang menembus kabut melenakan fantasy Kragh, matnya terpejam, merasakan lebih dalam kehangatan yang menyentuh wajahnya, rambut tebalnya bergoyang–udara pagi menyapanya, semakin melenakan. Burung-burung laut dibawah sana tampak bergerombol mencari ikan-ikan, ombakombak besar kejar-kejaran menhantam karang yang terlihat sangat mungil dari atas sini. Dan sebelum puas ia menikmati suasana itu sepasang ’gnalpin’ melintas di belakang Kragh. Menghilangkan konsentrasinya pun keseimbangannya. Ia oleng dan tergelincir jatuh. Beruntung ia masih sempat mencengkram dahan kecil yang menjulur dari sela-sela batu keras dari nagari itu.
Tangan Kragh sudah teramat letih dan kaku, tak dapat menahan berat badanya sendiri. Tubuhnya menggantung berpegang pada dahan kecil. Darah segar menetes dari gengaman itu dan mendarat di bahu dan pelipisnya. Tangannya tergores hujung batu keras saat hendak meraih dahan kecil itu. Tak pernah ia bayangkan jika sampai terjatuh dari ngarai setinggi 300m ini, sebuah jarak yang membuatnya takut cemas dan menggetarkan tubuhnya. Belum selesai ia membayangkan kengerian itu … KRAK, KRAK, KRAAAAAAK…. dahan itu terlepas tak kuat lagi digantungi beban tubuh Kragh. Ia melayang bersiap-siap terhempas di permukaan air laut. Helai-helai rambut tebalnya melayang-layang mencoba menahan angin dan gravitasi. Dan dalam hitungan detik BYUR….!!! tubuhnya membuat dentuman. Bahu belakang lelaki itu membentur karang keras, disusul gelombang laut yang mengombang-ambingkan tubuhnya. ’ARGGH….’ ia berteriak, tangan kananya mati rasa. sekuat tenaga Kragh menggapai tepi pantai, dengan sedikit bantuan gelombang laut ia berhasil mendamparkan diri. Terkapar menatap langit, walau sebagian kakinya masih menyentuh gelombang laut. Pandangannya berubah gelap mengabur dan akhirnya terpejam, tak sadarkan diri.

***

”Aah…!!!” Kragh mengaduh memegang bahunya
”Sudah sadar?” lelaki gondrong tinggi dan berotot mengahampirinya
”Bahumu sepertinya parah” lanjutnya
”Tadi siang kau kutemukan dipnggir laut, pingsan”
’Sekarang kau di gubugku”
Kragh terdiam seperti mengabaikan lawan bicaranya. Ia masih mengingat-ngingat apa yang sudah terjadi.
”Kalu kau lapar, di atas meja ada ’ngobta’ rebus”
”Aku mau mencari buah ’povbru’ dulu”
Pria itu pergi menenteng sebilah pedang. Ia pergi sebelum sempat mendengar aku berbicara selain suara megaduhku tadi.
Otak kragh sudah mampu memutar memori dikepalanya, bagaimana karang itu ia hantam dengan bahunya, dan terdampar tak sadarkan diri. Dan mungkin saja pria seram tadi yang membawanya ketempat ini.
Cukup lama ia terbaring diatas pelepah-pelepah daun ’povbru’, sambil menatap langit-langit susunan kayu-kayu hutan sebesar lengan orang dewasa. Hembusan angin laut dari jendela menyapa wajah Kragh menyadarkanya dari lamunan. Dan beranjak mendekati meja di tengah ruangan. Meraih beberapa potong ’ngobta’ rebus dengan tangan kirinya, mengunyah dan menelan potong-potong umbian hutan tersebut.
Tempat ini sangat terisolasi dari kermaian, yang ada hanya semak belukar, pepohonan ’povbru’ dan pantai dengan ombak besar serta ngarai yang tinggi. Diluar gubug ini tak ada halaman dengan bunga-bunga, tak ada apapun selain sweaterku yang menggantung di atas jemuran kayu. Didepan sejauh apapun mata memandang hanya akan terlihat air laut, tak ada daratan sekecil apapun.kanan kiri hanya ada deretan pohon ’povbru’ dan pohon hutan lainya. Bagian belakang hanya ada semak belukar dan ngarai tinggi. Sejenak Kragh tampak frustrasi karena sepertinya ia takkan bisa kemana-mana. Tetapi akhirnya ia tersenyum bukannya ini ssebuah tempat yang mengasyikan dan bukanya ia memang membutuhkan tempat persembunyian dari kejaran anak buah ayahnya. Tapi mustahil pria besar tadi bisa hidup di tempat ini dalam waktu yang cukup lama. Pria itu berfikir bagaimana jika untuk selamnya ia harus hidup ditempat seperti ini. Jauh dari peradaban, makan umbi-umbian dan ikan. ’ah lebih baik aku mati menghadapi anak buah ayahku daripada disini dan mati sia-sia’. Hati Kragh berbisik lirih dan ngeri dengan hari-hari esoknya disini ditempat terisolasi seperti ini.
Pria besar tadi datang dengan membawa 4 atau 5 buah ’povbru’. Ia menatapku yang masih berusaha mengenakan sweaterku disamping jemuran kayu. Pria besar itu lalu masuk ke gubugnya, Kragh melangkah dan menghampiri pria besar yang sudah duduk di dekat meja kayu, pria besar tampak mengencangkan ikatan yang mengikat kaki meja agar bisa berdiri menopang meja itu sendiri. Ya prabot-prabot ruangan ini sangat sederhana bahkan tak ada satu butir paku pun untuk nmengencangkan bagian-bagian dari prabot tersebut, semua di ikat menggunanakan anyaman akar. Kragh duduk di seberang meja, mengamati tingkah pria besar yang seram dan penuh misteri.

”Bisa ngupas ’povbru’?” ia bertanya dan menyodorkan 2 buah ’povbru’ dan sebilah pedang kepada Kragh.
”Bisa” Kragh mengambil ketiga benda itu dari tangan pria besar.
”Ngupasnya dibelakang, kulitnya letakkan disamping perapian” perintahnya
Cukup lama Kragh bersusah payah mengupas buah itu, apalagi tangan kanannya masih sangat sakit jika dipaksakan gerak. Ditambah tempurung ’povbru’ tersebut sangat tebal dan tajam.
”Nih, ’gruw’(abang)” untuk pertama kalinya Kragh memanggilnya ’gruw’ karena ia memang lebih tua dari Kragh.
”Taruh saja diatas meja” jawabnya singkat
”Siapa namamu?”
”Kragh, em… gruw?”
”Kau tak perlu tau siapa namaku!”
”Knapa?”
”Tidak usah banyak tanya!” matanya terlihat memerah
”Maaf” butuh keberanian lebih untuk menatap mata itu, dan segera Kragh mengalihkan tatapanya pada laut di luar jendela.
”Trimakasih gruw telah menyelamatkan nyawaku.”
”Ya” jawabnya singkat. ”Kau tidak bisa kemana-mana dan pergi dari sini”
Tak banyak yang mereka bicarakan, kemudian mereka mengahabiskan daging buah ’povbru’ diatas meja. Dan beberapa gelas air hujan yang disimpan pria besar di tong kayu yang diapisi daun-daun hutan.
Untuk beberapa hari Kragh berusaha menikmati berada ditempat seperti ini. Mencari ikan dengan tombak kayu, membuat api,membantu pria besar memetik buah ’pobvru’, mencari ranting, membenari gubug, dan berkeliling mencari jalan pulang. Pria besar sudah tak seseram saat pertama kali mereka bertemu. Belakangan kutau namanya Bedo guyo tetapi aku lebih senang memanggilnya ’Pria Besar’. Umbi-umbian menjadi makanan pokok, walau sesekali pria besar membawa beberapa ikat sayur dan bahan pangan lain. Ia selalu marah kalu kragh menanyakan darimana ia mendapatkan ssemua itu. Dan selalu melarang Kragh pergi kehutan dimana ia mendapatkan sayur dan bahan lain. Katanya disana masih banyak hewan buas dan tempatnya sangat rapuh. Minuman mereka dari air hujan dan air buah ’povbru’. Dan sekarang aku adalah perenang handal, pria besar mengajariku setiap sore. Tidak hanya itu pria besar dan aku kini memiliki sebuah gubug yang lebih nyaman. Pria besar membangunya dengan rancanganku, ternyata ada gunanya jadi mahasiswa arsitek selama 4 tahun.
Waktu telah mengubah mereka menjadi dua orang sahabat yang saling menjaga dan melindungi satu sama lain. Walau konflik juga sering mewarnai perjalanan hidup mereka. Seperti kemarin saat Kragh mencari ranting dan kayu bakar di ’hutan larangan’ bedu guyo marah besar dan berulang-ulang memaki Kragh.
”Aku hanya mencari ranting di pinggir hutan, tak masuk kedalam” Kragh berusaha membela diri.
”Kenapa tak kau cari di tempat lain!” pri besar sedikit berteriak
”Rantingnya belum kering”
”Sudahlah besok biar aku yang mencari ranting”

***

6 bulan, waktu yang cukup lama untuk membuat rambut rambut Kragh lebat dan panjang—tak terurus, menghitamkan kulit karena terik yang berjam-jam ditrima Kragh saat mencari ikan. Sudah 13 hari pria besar tidak membawa bahan-bahan makanan dari hutan larangannya. Dan semalam ia bercerita kalau hari ini ia akan pergi kesana, dan menyuruhku mencari pelepah daun ’povbru’ untuk mengganti atap gubug kami.
Matahari sudah meredup pertanda malam segera menjelang, tapi pria besar belum juga pulang—tak seperti biasanya. Kragh bergegas mengambil pedang, menyelipkannya di pinggang kemudian berlari ke hutan larangan, memberanikan diri memasukinya karena khawatir takut terjadi apa-apa dengan Pria Besarnya.
Setengah kilo meter ia berjalan didalam hutan itu, menyusuri pohon-pohon besar dan jalan yang mendaki. Tak jua ia temui pria besar. Dadanya berdegup, kencang setiap saat merasakan kecemasan dan ketakutan kalau hewan buas tiba-tiba menyerangnya atau mereka sedang mengintai Kragh dari balik pohon-pohon besaar itu. Untunglah sejauh ini masih belum terjadi apa-apa. Semakin tinggi ia mendaki, pohon dihutan itu semakin kecil. Degupan jantungnya terlihat sudah bisa ia kendalikan karena hutannya sudah tak selebat tadi dan tak ada juga tanda-tanda dari binatang buas. Tapi seketika jantungnya kembali berdegup, ada sekelebat bayangan yang menerobos ranting-ranting kecil—menuju kearahnya. Kragh refleks mencabut pedang dipinggangnya, bersiap menghunuskanya.
”Kragh….!” bayangan itu berteriak
”Bedu..?” Kragh terkejut setengah mati., beruntung bukan hewan buas yang ia temui.
”Sudah kubilang jangan pernah kau kesini!”
”Grew, tadi hari sudah semakin gelap. Dan kau belum pulang, aku takut terjadi sesuatu padamu. Dan memberanikan diri menyusulmu”
”Sudahlah ayo pulang”
”Biar kubawakan” Kragh meminta kantong plastik yang ia tenteng, sebuah kantong plastik besar dengan beberapa sayur yang terikat rapi. Serta bahan pangan lain yang dibungkus koran. Sekarang ia tahu mengapa Pria Besar melarangnya kehutan ini.
”Maafkan aku—terpaksa berbohong soal hutan larangan itu, aku takut kau akan pergi, untuk kemudian menceritakan persembunyian kita pada dunia luar. Sebenarnya aku buronan yang di vonis hukuman mati. Karena merampok BANK, membunuh lima pegawainya, memalsukan identitas, pengedar narkoba, dan mematahkan hidung anak seorang jenderal.” Pria besar menjelaskan semua pada Kragh, malam itu setelah sampai di gubug mereka. Dan mengapa ia tak boleh ke hutan larangannya, karena itu adalah jalan pulang sebenarnya. Tak ada binatang buas disana,
Pria Besar menjual beberapa karung buah ’Pobvru’ di pasar tradisional. Di tengah perjalanan pulang ia membuang bungkus bahan pangan tersebut, untuk meyakinkan Kragh kalau ia benar-benar mencarinya bukan membelinya dengan buah-buah ’Pobvru’.
”Kapal yang membawa tahanan—termasuk aku, hancur dihantam badai dan terjangan karang” Pria Besar melanjutkan ceritanya.
”Rencananya kami akan dipindahkan ke penjara Noriscapa, entahlah tahanan lain dan anak buah kapal itu selamat atau tidak, yang jelas selama dua hari aku teraupng-apung di tengah laut, memegang serpihan kapal. Sampai terdampar disini.”
”Untuk beberapa hari aku berjuang mencari apa yang bisa dimakan, sambil berkeliling mencari jalan keluar dari sini, ya hutan itu jalan keluarnya. Kau masih harus mendaki 10km lagi dari tempat kita bertemu di tengah jalan hutan tadi, sebelum sampai ke jalan besar” Pria Besar diam sesaat sambil menatap mata Kragh.
”Aku mencuri pedang itu dan beberapa benda lain dari rumah penduduk desa di atas sana” Jari telunjuknya diarahkan ke pedang di pinggangku
”Sudah 5 bulan aku ditempat ini, dan kemudian menemukanmu terkapar waktu itu. Pernah terfikir untuk membunuhmu, agar kelak kau tak bertingkah dan membeberkan persembunyianku, tapi aku tak sanggup karena wajahmu sangat mirip dengan wajah anak istri ketigaku”
”Maafkan aku juga, Pria besar” Kragh menatap mata Pria besar berkaca-kaca mengenang buah hatinya.
”Kalau kau bisa menjaga kerahasiaan tempat ini, besok kau boleh pergi!”
”Aku takkan pergi, kalau Grew tak pergi” Kragh berjanji pada pria besar
Sudah larut,. Merekapun tertidur ditemani cahaya bulan sabit dan bintang-bintang yang masuk dari cela-cela atap gubug mereka.
Begitu banyak kisah yang telah mereka lalui, begitu banyak pula kesedihan,keharuan dan warna-warni yang terlukis di secarik cerita mereka berdua. Cahaya bulan sabit dan remang bintang-bintang tengah malam—menatap mereka berdua penuh haru. Bersinar selembut mungkin dan berdo’a pada langit untuk menhadiahkan mimpi paling indah. Setidaknya untuk malam ini.
***
Di salah satu malam saat Kragh berfikir ulang untuk tetap disini atau mengajak Pria besar pergi. Ia menatap kosong gugusan bintang-bintang, membaringkan tubuh kurusnyadiatas pasir, tengadah menatap langit. Merenungkan masa-masa yang telah dilalui dan massa depan yang harus dilalui.
Perlahan aawan hitam berarak, menyelimuti bintang-bintang diatas sana. Dalam hitungan menit, tak satupun kerlip bintang yang tersisa. Bahkan gerimis kecil mulai turun berhambur dari balik awan itu. Mengacaukan seluruh tatapan kosong Kragh. Dan saat gerimis kecil itu berubah menjadi rintik, Kragh tak lagi bisa berfikir tentang kehidupannya.
Rintik-rintik itu semakin menjadi jadi, membentuk hujan lebat bersama deru angin. Kragh berlari menuju gubug, dilihatnya Pria Besar telah pulas dilarutkan mimpi. Diluar sana, halilintar terdengar mulai bergemuruh. Deru ombak juga semakin mengeras dan mengeras. Hm…, tampaknya akan terjadi badai besar malam ini. Mungkin saja lebih dahsyat dari badai-badai malam kemaren.
***
Udara pagi menyentuh setiap isi gubug itu. Membangunkan Kragh dari tidur pulasnya. Kragh Mengucek-ngucek bola matanya, menatap keindahan pagi yang diwarnai riuh rendah suara ombak. Seperti biasa ia akan memulai aktifitasnya pagi ini. Pria besar sudah tak ada di atas tempat tidurnya. Belum sempat ia beranjak dari tempat tidurnya. Diluaar gubug itu, pria besar berteriak lantang memanggil namanya.
”Krrrrrrrrrrragh…!!!!”
Kragh terkejut mendengarnya memanggil selantang itu, tak seprti biasanya. Ia bergegas menghampiri Pria Besar di bibir pantai. Memastikan apa maksud dari panggilan itu.
”Apa yang harus kita lakukan dengan orang ini?”

to be continued…