SEBUAH cerita pendek (cerpen), mengingat kekhasannya, menuntut kepiawaian penulisnya dalam memilah dan memilih mana yang seyogianya tersurat atau tersirat. Dibandingkan semisal sebuah novel, bahasa prosanya cenderung lebih hemat, di mana bangunan keseluruhan cerita diharapkan tampil ringkas namun utuh. Maka, persoalan bentuk (stilistik) atau cara bertutur menjadi pergulatan tersendiri, yang dalam kenyataannya kerap menjadi batu sandungan bagi penulis genre ini.

Bahkan, boleh dikata tidak sedikit cerpen mutakhir Indonesia abai akan bentuk, dan itu mengesankan para pengarangnya belum sepenuhnya menguasai teknik bercerita yang telah menjadi pilihannya. Bagaimana dengan karya Putu Fajar Arcana dalam kumpulan cerpen terbarunya, Samsara?

Kumpulan cerpen Samsara (2005) adalah buku kumpulan cerpen tunggal kedua karya sastrawan dan wartawan Putu Fajar Arcana. Buku ini berisi 12 cerpen dan diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (GPU) dengan ilustrasi lukisan karya Polenk Rediasa. Bila mencermati keseluruhan isi cerpen, segera terbaca bahwa buku ini adalah tahapan kreatif berikut setelah kumpulan cerpennya yang pertama, Bunga Jepun. Kesadaran akan pentingnya bentuk memang terasa mengemuka dalam buku kedua ini. Dalam pengantarnya, Jean Couteau, budayawan asal Prancis yang telah mukim lebih dari 30 tahun di Bali, mencermati bagaimana Fajar Arcana mencoba mengelak dari tema klise, yaitu tema sosial permukaan, eksotis, dan sebagainya-yang sejauh ini, disadari atau tidak, telah menjadi dinding pembatas kreativitas. Fajar menawarkan suatu pendekatan baru atas tema utama yang dipilihnya, yaitu Maut, dan melalui “Maut” pembaca diajak mengalami, menghayati, dan kemudian menjaraki “kematian” bukan lagi sebagai peristiwa menakutkan sebagaimana yang selama ini diyakini.

Melalui pendekatan yang ditawarkan itu, serta diungkapkan dalam pilihan bahasa yang jernih dan jauh dari dari kehendak bermetaforis, Fajar menggali “akar” kebaliannya dengan cara dan sudut pandang yang baru-dan justru menariknya, dia kini berhasil mengalami dan menyelami Balinya secara lebih mempribadi, tampil personal dan sekaligus universal. Sebagian besar tokoh dalam cerpennya digambarkan mengalami, menyadari, dan malahan kemudian mengisahkan proses mautnya.

Sang Aku yang tengah atau telah mengalami ajal itu dilukiskan sebagaimana layaknya dia masih hidup, penuh dengan kesadaran dan seakan tanpa kehilangan apa pun.

MAUT yang kerap dipersepsikan secara menakutkan oleh banyak kalangan, di tangan Fajar justru hadir menjadi suatu peristiwa alami biasa. Karena dia menolak klise, sosok Maut pun jadi banal. Di sini, nilai Jean Couteau, Fajar menawarkan cara pandang lain atas Maut. Sosoknya bukan lagi dipandang sebagai hal yang mencekam, bukan sebagai titik akhir, titik tanya atau titik seru seperti yang kerap digambarkan kebanyakan pengarang yang berlatar belakang agama Samawi-yaitu pengarang Yahudi, Kristen, Islam, dan sekuler modern-seperti pula pengarang Bali yang dipengaruhi ajaran-ajaran itu.

Bahkan, secara sadar, pengarang buku ini di dalam rangkaian ceritanya menegaskan pentingnya suatu sikap dan upaya kritis terhadap sistem kepercayaan Hindu-nya. Kecintaannya pada tanah kelahirannya tidak menghalanginya untuk menimbang Bali secara kreatif. Melalui perenungan dan pemertanyaan, Bali dan Hindu-nya tidak lagi hadir secara etnis-ornamentik atau semata ungkapan klise eksotik. Meski belum sepenuhnya tercapai, di sini terlihat juga upaya Fajar untuk menghindar dari penggambaran sosok fisik yang berlebihan dari para tokoh cerpennya (artifisial). Yang terkedepankan adalah persoalan batin (esensial), di mana sang tokoh meluapkan perasaan yang direnungkannya, dan hadir sebagai Roh atau Atma yang masih berada di sekitar tempat terjadinya kematian. Dengan kata lain, perpisahan Roh dari Tubuh tidak harus dinyatakan sebagai pertemuan penghabisan; atau tamatnya eksistensi seorang manusia. Keberadaan Roh atau Sang Atma yang mengisahkan peristiwa yang dialaminya pada dasarnya adalah kehadiran suatu supra-kesadaran yang dalam sebagian cerpen dituturkan melakukan pengelanaan antar- waktu/antarhidup.

Fajar, tentu dalam proses kreatif, mendatangi Maut, dan menemukannya tak lebih daripada suatu perenungan filsafati tentang batasan hidup, sesuatu yang tidak sepenuhnya lagi Hindu ataupun “Bali”, melainkan antar-kultur. Pendekatan akan tema Maut yang ditawarkan dengan sudut pandang baru itu tak pelak lagi mendorong Fajar berjuang menemukan “bentuk” (stilistik) yang memungkinkan terjadinya keutuhan dan kepaduan sebagaimana galibnya sebuah cerpen yang berhasil. Ketika mengerjakan kumpulan terbaru ini, Fajar tampaknya ia mencoba menerapkan sistem kerja para novelis, di mana ia mengandaikan diri sedang menggarap sebuah “proyek” bernama Samsara Writing Project. Oleh karena itu, sebelum menuliskan cerpen-cerpennya, Fajar mengadakan semacam studi kepustakaan dan wawancara dengan sejumlah pakar agama.

Dalam proyek Samsara, seperti yang diakuinya, ia tidak saja membaca buku-buku tentang agama yang membahas fenomena samsara atau reinkarnasi, tetapi juga membaca buku-buku tentang studi terapi psikologi yang kemudian dikenal dengan terapi regresi. Metode ini memakai hipnosis sebagai jalan untuk membuat seorang pasien kembali kepada masa lalu mereka. Di situlah kemudian metode Barat ini membuktikan bahwa manusia bisa mengalami beberapa kali reinkarnasi. Bahkan, jiwa seseorang bisa berasal dari beberapa serpih jiwa yang hidup dari masa puluhan tahun silam. Selain itu dalam kumpulan ini, Fajar juga mencoba menyusup memasuki alam bawah sadar seorang penderita skizofrenia, di mana keinginan-keinginan bunuh diri berasal dari suara-suara yang menggema di telinga. Itu terdapat dalam cerpennya Aku Temukan Diriku Terkapar di Ruang Penyekapan.

SELAIN studi itu, sebagai manusia Bali yang sekarang menetap di Jakarta, Fajar memiliki jarak pandang yang kritis terhadap daerah tempat kelahirannya. Ia bisa secara bebas menafsir, mengkaji, dan bahkan mengkritik Bali. Hal ini dimungkinkan mengingat Negara, kota kelahiran dan masa awal pertumbuhan intelektualnya, adalah suatu daerah pesisir yang boleh dikata paling awal mengenal semangat multikultur dalam pergaulan kesehariannya. Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan tanah Jawa, hanya dipisah oleh selat sempit yang mudah diseberangi, nilai-nilai tradisi disikapi dan dijalankan dengan lebih terbuka.

Berbeda dengan kota-kota lain di Bali, kecuali Singaraja, patron-patron warisan sejarah yang feodal nyaris/bahkan bisa dikatakan sudah kehilangan perannya di Negara. Jadi, bukan suatu yang mengejutkan, bila dalam proyek Samsara ini Fajar terlihat leluasa mencoba melakukan sinergi antara pemahaman teks soal reinkarnasi dan memori kulturalnya sebagai manusia Bali. Maka, dalam cerpen-cerpennya, bukan hal yang mengherankan bila sering kali terjadi seorang pencerita atau tokoh bisa bercerita dengan bebas kendati ia sudah meninggal.

Misalnya, dalam cerpen Requiem, sosok si mati dikisahkan menyadari mautnya sebagai atma yang hadir di sekitar tempat peristiwa kematian itu terjadi, lalu terlahir kembali sebagai anjing tanpa adanya hambatan apa pun untuk berlaku sebagaimana “aku” sebelumnya. Tak jauh beda juga cerpen Drupadi, terilhami kisah Sang Drupadi dalam Mahabharata, seseorang mengalami lebih dari seratus kali penjelmaan. Sedangkan dalam Baru Saja Kusadari Tentang Kematian, Fajar malahan mengisahkan dengan ringan perihal proses kematian itu sendiri, seolah dia mengalami saat-saat Maut menjemput dan mampu menjaga sudut pandang penceritaannya agar tak tergelincir menjadi kisahan yang mencekam. Realitas yang diolah Fajar itu sesungguhnya dengan mudah bisa ditemui ketika orang Bali mendatangi balian (setara dukun) untuk menanyakan segala soal di seputar kehidupan sehari-hari. Di situ, realitas sehari-hari tidak lagi berjarak dengan realitas-spiritual dan bahkan realitas mitos.

Dalam cerpen-cerpen yang lain, Fajar melalui “Maut” yang kali ini seakan hanya jadi sampiran, bisa juga bertutur perihal masalah psikologis, sosial dan politis, juga tekanan yang dihadapi kaum urban perkotaan. Misalnya Lantai Tiga Belas; Menjelang Tidur Kupadamkan Lampu; Kado yang Terlambat Tiba; atau juga Kereta Senja. Di situ masalah sosial atau konflik politik dan psikologis yang dihadapi para tokohnya bukan sekadar dihadirkan melulu secara sosial, politis atau psikologis, melainkan melalui teropong filsafat Maut: tak ayal lagi cerpen-cerpen Fajar menyajikan sudut pandang yang segar.

Sosok Maut yang dieksplorasi dengan cara pandang Fajar itu biasa dibaca sebagai cara pengarang untuk menegaskan adanya tema acuan, yaitu kekerasan dalam berbagai bentuknya. Kekerasan ini dihadirkan sebagai kekerasan adat/tradisi, kekerasan rumah tangga, atau juga kekerasan politik dan kekuasaan. Kekerasan yang diselubungi atau dibayang-bayangi Maut ini niscaya adalah kesengajaan dari pengarang untuk mengkritisi anggapan yang berkembang selama ini tentang Bali yang selalu digambarkan indah dan tenteram itu. Pewacanaan tentang Bali yang sejauh ini cenderung normatif: selalu diandaikan sebagai sepotong surga terakhir atau tanah dewata yang tersisa di bumi, ini terlalu ideal dan tanpa disadari mereduksi Bali semata hanya pada eksotika.

Pandangan stereotip macam ini-yang awalnya dikumandangkan berulang oleh kaum kolonial Belanda dan kemudian dilestarikan oleh Orde Baru dengan jargon pariwisata-budaya-telah menerakan, dalam istilah Jean Couteau, suatu pseudo identitas tertentu. Lambat laun sosok Bali yang semu ini diyakini sebagai kebenaran, bahkan oleh orang Bali sendiri, dan sedikit banyak turut menciptakan semacam alienasi kultural pada orang Bali umumnya.

Putu Fajar Arcana, yang dilahirkan dan dibesarkan dalam kultur Bali, membuka kesempatan pada pembaca untuk menyaksikan sengitnya pergulatan di sekitar fenomena itu. Apalagi pseudo indentitas itu, bila telah mengungkung seseorang atau masyarakat, terbukti amat potensial membatasi kreativitas, menjadikan seseorang/masyarakat cenderung tertegun pada kekaguman atau bereaksi sebaliknya mengajukan kritik sosial yang berlebihan; bersifat permukaan dan klise; tema yang digarap juga akhirnya bersifat klise dan dengan sudut pandang yang nyaris berulang. Pengarang Bali lainnya sebagian tentu menyadari akan tantangan ini. Akan tetapi, tidak sedikit juga yang berada dalam lilitan eksotika yang boleh jadi dirasa “menenteramkan” ini.

JARAK kreatif yang dicoba direntangkan Fajar atas Bali sebagai mata air penciptaannya menarik juga disandingkan dan dibandingkan dengan upaya penulis lainnya yang dalam banyak hal memiliki kedekatan soal yang sama; yaitu berhadapan dengan akar tradisi yang masih kukuh menancap, setengah punah, atau yang tengah berubah perangainya; menuju sesuatu yang belum terbayangkan. Sekadar menyebut contoh, ada Gus Tf dengan Minangkabaunya, Taufik Ikram Jamil dengan Riaunya, Zain Hae dengan Betawinya; Sitok Srengenge, Triyanto Triwikromo, Gunawan Maryanto semua dengan kejawaannya. Bagaimana pula fenomena kehadiran mereka bila dibandingkan dengan para penulis tahun 70-an yang menegaskan semangat kembali ke akar sebagai pilihan kemungkinan estetiknya. Diperlukan telaah yang lebih jauh dan lebih mendalam, bukan saja karena kompleksitas masalahnya, melainkan juga kenyataan yang tak terpungkiri bahwa tidak kurang banyaknya dari penulis tahun 70-an yang hingga kini masih berkarya.

Cerpen-cerpen di dalam Samsara ditulis Putu Fajar Arcana antara tahun 2003-2005. Buku ini seolah-olah menyodorkan berbagai fenomena dan fakta di seputar kepercayaan dan kenyataan reinkarnasi. Ia tak lagi diletakkan dalam posisi ajaran, tetapi sebagai teks yang terbuka untuk berbagai interpretasi.

sumber: Warih Wisatsana Penyair, Tinggal di Denpasar