<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>cerita</title>
	<atom:link href="http://ceritapendek.blog.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ceritapendek.blog.com</link>
	<description>aku bercerita tentang 'cerita'</description>
	<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 08:54:07 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>”Kraghtino Sruption”</title>
		<link>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/04/%e2%80%9dkraghtino-sruption%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/04/%e2%80%9dkraghtino-sruption%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 08:54:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iman safri lukman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<category><![CDATA[cerpen hayalanku]]></category>

		<category><![CDATA[cerita]]></category>

		<category><![CDATA[fiksi]]></category>

		<category><![CDATA[Kraghtino Sruption]]></category>

		<category><![CDATA[lelaki penyendiri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapendek.blog.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Di satu tempat yang tak pernah kau kunjungi
	Di lorong waktu yang tak pernah kau lalui
	Di situ cerita ini mengalun
	Mengabarimu berjuta salam tentang  kehidupan&#8230;!!!
***
	Wewangian getah ’Dreytif’—pohon hutan itu menghambur di lembar udara pagi. Lelaki itu melangkah&#8230; menatap rumput hijau dan kerikil kecil di setapak jalan. Kicau burung-burung mengiringi langkah lambannya, suara mereka berisik tapi anggun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di satu tempat yang tak pernah kau kunjungi<br />
	Di lorong waktu yang tak pernah kau lalui<br />
	Di situ cerita ini mengalun<br />
	Mengabarimu berjuta salam tentang  kehidupan&#8230;!!!</p>
<p>***</p>
<p>	Wewangian getah ’Dreytif’—pohon hutan itu menghambur di lembar udara pagi. Lelaki itu melangkah&#8230; menatap rumput hijau dan kerikil kecil di setapak jalan. Kicau burung-burung mengiringi langkah lambannya, suara mereka berisik tapi anggun memberi kehangatan tak terputus pada hati lelaki itu. Mereka terbang bermain di dahan ’Dreytif’ mengoyangkan tumpukan-tumpukan embun dan menetesi rambut tebal lelaki itu Begitupun sweater biru mudanya basah di bagian bahu dan lengannya. Sesekali ia gosokkan kedua telapak tangan untuk mengusir dingin yang menggigilkan tubuh. Ia mematung untuk sesaat, karena menatap seekor ’Gnalpin’ jantan yang berlarian terkejut menatap lelaki itu. Lelaki itu kemudian berhenti melangkah, mengamati bekas tapak hewan bertanduk dengan cabang-cabang tajamnya. Kemudian ia menengadah menanti embun untuk ikut menyentuh wajahnya. ’Ah, seharian perutku keroncongan’ ia menggumam. Dan mengingat kembali mengapa ia harus melarikan diri dari kemewahan dan kekayaan orang tua yang merawatnya. Lelaki itu kelelahan, ya lalaki itu ”Kraghtino sruption” sebuah nama dari keluarga terpandang clan ”Bertiona” dan kini ia telah menjadi seorang pengelana.<br />
	Mimpi dan ketakutan telah membawanya kesini, tempat dimana hutan telah memberinya sedikit ketenangan. Hutan yang ber kilo-kilometer jauhnya dari rumah yang dulu ia tempati. Dan Kragh selalu akan berjalan mencari angan dan mimpi yang belum ia temukan, hutan ini hanya persinggahan sementara, ia masih harus berjalan menghindari para anak buah ayahnya yang takkan segan-segan membunuhnya. Ia melanjutkan langkah berjalan sejauh mungkin, bersembunyi sedalam mungkin.<br />
	Kragh meneruskan perjalanannya, dan sampailah dia di sebuah ngarai yang curam. Sinar matahari yang baru terbit tampak indah sekali di seberang sana&#8211;menghentikan langkahnya. Ia kemudian menikmati sinar emas itu dari pinggir ngarai. Ah&#8230; sebuah keindahan yang begitu mempesona. Warna emas berpadu putih dan hangat mentari yang menembus kabut melenakan fantasy Kragh, matnya terpejam, merasakan lebih dalam kehangatan yang menyentuh wajahnya, rambut tebalnya bergoyang&#8211;udara pagi menyapanya, semakin melenakan. Burung-burung laut dibawah sana tampak bergerombol mencari ikan-ikan, ombakombak besar kejar-kejaran menhantam karang yang terlihat sangat mungil dari atas sini. Dan sebelum puas ia menikmati suasana itu sepasang ’gnalpin’ melintas di belakang Kragh. Menghilangkan konsentrasinya pun keseimbangannya. Ia oleng dan tergelincir jatuh. Beruntung ia masih sempat mencengkram dahan kecil yang menjulur dari sela-sela batu keras dari nagari itu.<br />
	Tangan Kragh sudah teramat letih dan kaku, tak dapat menahan berat badanya sendiri. Tubuhnya menggantung berpegang pada dahan kecil. Darah segar menetes dari gengaman itu dan mendarat di bahu dan pelipisnya. Tangannya tergores hujung batu keras saat hendak meraih dahan kecil itu. Tak pernah ia bayangkan jika sampai terjatuh dari ngarai setinggi 300m ini, sebuah jarak yang membuatnya takut cemas dan menggetarkan tubuhnya. Belum selesai ia membayangkan kengerian itu &#8230; KRAK, KRAK, KRAAAAAAK&#8230;. dahan itu terlepas tak kuat lagi digantungi beban tubuh Kragh. Ia melayang bersiap-siap terhempas di permukaan air laut. Helai-helai rambut tebalnya melayang-layang mencoba menahan angin dan gravitasi. Dan dalam hitungan detik BYUR&#8230;.!!! tubuhnya membuat dentuman. Bahu belakang lelaki itu membentur karang keras, disusul gelombang laut yang mengombang-ambingkan tubuhnya. ’ARGGH&#8230;.’ ia berteriak, tangan kananya mati rasa. sekuat tenaga Kragh menggapai tepi pantai, dengan sedikit bantuan gelombang laut ia berhasil mendamparkan diri. Terkapar menatap langit, walau sebagian kakinya masih menyentuh gelombang laut. Pandangannya berubah gelap mengabur dan akhirnya terpejam, tak sadarkan diri. </p>
<p>***</p>
<p>”Aah&#8230;!!!” Kragh mengaduh memegang bahunya<br />
”Sudah sadar?” lelaki gondrong tinggi dan berotot mengahampirinya<br />
”Bahumu sepertinya parah” lanjutnya<br />
”Tadi siang kau kutemukan dipnggir laut, pingsan”<br />
’Sekarang kau di gubugku”<br />
Kragh terdiam seperti mengabaikan lawan bicaranya. Ia masih mengingat-ngingat apa yang sudah terjadi.<br />
”Kalu kau lapar, di atas meja ada ’ngobta’ rebus”<br />
”Aku mau mencari  buah ’povbru’ dulu”<br />
Pria itu pergi menenteng sebilah pedang. Ia pergi sebelum sempat mendengar aku berbicara selain suara megaduhku tadi.<br />
	Otak kragh sudah mampu memutar memori dikepalanya, bagaimana karang itu ia hantam dengan bahunya, dan terdampar tak sadarkan diri. Dan mungkin saja pria seram tadi yang membawanya ketempat ini.<br />
	Cukup lama ia terbaring diatas pelepah-pelepah daun ’povbru’, sambil menatap langit-langit susunan kayu-kayu hutan sebesar lengan orang dewasa.  Hembusan angin laut dari jendela menyapa wajah Kragh menyadarkanya dari lamunan. Dan beranjak mendekati meja di tengah ruangan. Meraih beberapa potong ’ngobta’ rebus dengan tangan kirinya, mengunyah dan menelan potong-potong umbian hutan tersebut.<br />
	Tempat ini sangat terisolasi dari kermaian, yang ada hanya semak belukar, pepohonan ’povbru’ dan pantai dengan ombak besar serta ngarai yang tinggi. Diluar gubug ini tak ada halaman dengan bunga-bunga, tak ada apapun selain sweaterku yang menggantung di atas jemuran kayu. Didepan sejauh apapun mata memandang hanya akan terlihat air laut, tak ada daratan sekecil apapun.kanan kiri hanya ada deretan pohon ’povbru’ dan pohon hutan lainya. Bagian belakang hanya ada semak belukar dan ngarai tinggi. Sejenak Kragh tampak frustrasi karena sepertinya ia takkan bisa kemana-mana. Tetapi akhirnya ia tersenyum bukannya ini ssebuah tempat yang mengasyikan dan bukanya ia memang membutuhkan tempat persembunyian dari kejaran anak buah ayahnya. Tapi mustahil pria besar tadi bisa hidup di tempat ini dalam waktu yang cukup lama. Pria itu berfikir bagaimana jika untuk selamnya ia harus hidup ditempat seperti ini. Jauh dari peradaban, makan umbi-umbian dan ikan. ’ah lebih baik aku mati menghadapi anak buah ayahku daripada disini dan mati sia-sia’. Hati Kragh berbisik lirih dan ngeri dengan hari-hari esoknya disini ditempat terisolasi seperti ini.<br />
	Pria besar tadi datang dengan membawa 4 atau 5 buah ’povbru’. Ia menatapku yang masih berusaha mengenakan sweaterku disamping jemuran kayu. Pria besar itu lalu masuk ke gubugnya, Kragh melangkah dan menghampiri pria besar yang sudah duduk di dekat meja kayu, pria besar tampak mengencangkan ikatan yang mengikat kaki meja agar bisa berdiri menopang meja itu sendiri. Ya prabot-prabot ruangan ini sangat sederhana bahkan tak ada satu butir paku  pun untuk nmengencangkan bagian-bagian dari prabot tersebut, semua di ikat menggunanakan anyaman akar. Kragh duduk di seberang meja, mengamati tingkah pria besar yang seram dan penuh misteri. </p>
<p>	”Bisa ngupas ’povbru’?” ia bertanya dan menyodorkan 2 buah ’povbru’ dan sebilah pedang kepada Kragh.<br />
	”Bisa” Kragh mengambil ketiga benda itu dari tangan pria besar.<br />
	”Ngupasnya dibelakang, kulitnya letakkan disamping perapian” perintahnya<br />
Cukup lama Kragh bersusah payah mengupas buah itu, apalagi tangan kanannya masih sangat sakit jika dipaksakan gerak. Ditambah tempurung ’povbru’ tersebut sangat tebal dan tajam.<br />
	”Nih, ’gruw’(abang)” untuk pertama kalinya Kragh memanggilnya ’gruw’ karena  ia memang lebih tua dari Kragh.<br />
	”Taruh saja diatas meja” jawabnya singkat<br />
	”Siapa namamu?”<br />
	”Kragh, em&#8230; gruw?”<br />
	”Kau tak perlu tau siapa namaku!”<br />
	”Knapa?”<br />
	”Tidak usah banyak tanya!” matanya terlihat memerah<br />
	”Maaf” butuh keberanian lebih untuk menatap mata itu, dan segera Kragh mengalihkan tatapanya pada laut di luar jendela.<br />
	”Trimakasih gruw telah menyelamatkan nyawaku.”<br />
	”Ya” jawabnya singkat. ”Kau tidak bisa kemana-mana dan pergi dari sini”<br />
Tak banyak yang mereka bicarakan, kemudian mereka mengahabiskan daging buah ’povbru’ diatas meja. Dan beberapa gelas air hujan yang disimpan pria besar di tong kayu yang diapisi daun-daun hutan.<br />
	Untuk beberapa hari Kragh berusaha menikmati berada ditempat seperti ini. Mencari ikan dengan tombak kayu, membuat api,membantu pria besar memetik buah ’pobvru’, mencari ranting, membenari gubug, dan berkeliling mencari jalan pulang. Pria besar sudah tak seseram saat pertama kali mereka bertemu. Belakangan kutau namanya Bedo guyo tetapi aku lebih senang memanggilnya ’Pria Besar’. Umbi-umbian menjadi makanan pokok, walau sesekali pria besar membawa beberapa ikat sayur dan bahan pangan lain. Ia selalu marah kalu kragh menanyakan darimana ia mendapatkan ssemua itu. Dan selalu melarang Kragh pergi kehutan dimana ia mendapatkan sayur dan bahan lain. Katanya disana masih banyak hewan buas dan tempatnya sangat rapuh. Minuman mereka dari air hujan dan air buah ’povbru’. Dan sekarang aku adalah perenang handal, pria besar mengajariku setiap sore. Tidak hanya itu pria besar dan aku kini memiliki sebuah gubug yang lebih nyaman. Pria besar membangunya dengan rancanganku, ternyata ada gunanya jadi mahasiswa arsitek selama 4 tahun.<br />
	Waktu telah mengubah mereka menjadi dua orang sahabat yang saling menjaga dan melindungi satu sama lain. Walau konflik juga sering mewarnai perjalanan hidup mereka. Seperti kemarin saat Kragh mencari ranting dan kayu bakar di ’hutan larangan’ bedu guyo marah besar dan berulang-ulang memaki Kragh.<br />
	”Aku hanya mencari ranting di pinggir hutan, tak masuk kedalam” Kragh berusaha membela diri.<br />
	”Kenapa tak kau cari di tempat lain!” pri besar sedikit berteriak<br />
	”Rantingnya belum kering”<br />
	”Sudahlah besok biar aku yang mencari ranting”</p>
<p>***</p>
<p>	6 bulan, waktu yang cukup lama untuk membuat rambut rambut Kragh lebat dan panjang—tak terurus, menghitamkan kulit karena terik yang berjam-jam ditrima Kragh saat mencari ikan. Sudah 13 hari pria besar tidak membawa bahan-bahan makanan dari hutan larangannya. Dan semalam ia bercerita kalau hari ini ia akan pergi kesana, dan menyuruhku mencari pelepah daun ’povbru’	untuk mengganti atap gubug kami.<br />
	Matahari sudah meredup pertanda malam segera menjelang, tapi pria besar belum juga pulang—tak seperti biasanya. Kragh bergegas mengambil pedang, menyelipkannya di pinggang kemudian berlari ke hutan larangan, memberanikan diri memasukinya karena khawatir takut terjadi apa-apa dengan Pria Besarnya.<br />
	Setengah kilo meter ia berjalan didalam hutan itu, menyusuri pohon-pohon besar dan jalan yang mendaki. Tak jua ia temui pria besar. Dadanya berdegup,  kencang setiap saat merasakan kecemasan dan ketakutan kalau hewan buas tiba-tiba menyerangnya atau mereka sedang mengintai Kragh dari balik pohon-pohon besaar itu. Untunglah sejauh ini masih belum terjadi apa-apa. Semakin tinggi ia mendaki, pohon dihutan itu semakin kecil. Degupan jantungnya terlihat sudah bisa ia kendalikan karena hutannya sudah tak selebat tadi dan tak ada juga tanda-tanda dari binatang buas. Tapi seketika jantungnya kembali berdegup, ada sekelebat bayangan yang menerobos ranting-ranting kecil—menuju kearahnya. Kragh refleks mencabut pedang dipinggangnya, bersiap menghunuskanya.<br />
	”Kragh&#8230;.!” bayangan itu berteriak<br />
	”Bedu..?” Kragh terkejut setengah mati., beruntung bukan hewan buas yang ia temui.<br />
	”Sudah kubilang jangan pernah kau kesini!”<br />
	”Grew, tadi hari sudah semakin gelap. Dan kau belum pulang, aku takut terjadi sesuatu padamu. Dan memberanikan diri menyusulmu”<br />
	”Sudahlah ayo pulang”<br />
	”Biar kubawakan” Kragh meminta kantong plastik yang ia tenteng, sebuah kantong plastik besar dengan beberapa sayur yang terikat rapi. Serta bahan pangan lain yang dibungkus koran. Sekarang ia tahu mengapa Pria Besar melarangnya kehutan ini.<br />
	”Maafkan aku—terpaksa berbohong soal hutan larangan itu, aku takut kau akan pergi, untuk kemudian menceritakan persembunyian kita pada dunia luar. Sebenarnya aku buronan yang di vonis hukuman mati. Karena merampok BANK, membunuh lima pegawainya, memalsukan identitas, pengedar narkoba, dan mematahkan hidung anak seorang jenderal.” Pria besar menjelaskan semua pada Kragh, malam itu setelah sampai di gubug mereka. Dan mengapa ia tak boleh ke hutan larangannya, karena itu adalah jalan pulang sebenarnya. Tak ada binatang buas disana,<br />
	Pria Besar menjual beberapa karung buah ’Pobvru’ di pasar tradisional. Di tengah perjalanan pulang ia membuang bungkus bahan pangan tersebut, untuk meyakinkan Kragh kalau ia benar-benar mencarinya bukan membelinya dengan buah-buah ’Pobvru’.<br />
	”Kapal yang membawa tahanan—termasuk aku, hancur dihantam badai dan terjangan karang” Pria Besar melanjutkan ceritanya.<br />
	”Rencananya kami akan dipindahkan ke penjara Noriscapa, entahlah tahanan lain dan anak buah kapal itu selamat atau tidak, yang jelas selama dua hari aku teraupng-apung di tengah laut, memegang serpihan kapal. Sampai terdampar disini.”<br />
	”Untuk beberapa hari aku berjuang mencari apa yang bisa dimakan, sambil berkeliling mencari jalan keluar dari sini, ya hutan itu jalan keluarnya. Kau masih harus mendaki 10km lagi dari tempat kita bertemu di tengah jalan hutan tadi, sebelum sampai ke jalan besar” Pria Besar diam sesaat sambil menatap mata Kragh.<br />
	”Aku mencuri pedang itu dan beberapa benda lain dari rumah penduduk desa di atas sana” Jari telunjuknya diarahkan ke pedang di pinggangku<br />
	”Sudah 5 bulan aku ditempat ini, dan kemudian menemukanmu terkapar waktu itu. Pernah terfikir untuk membunuhmu, agar kelak kau tak bertingkah dan membeberkan persembunyianku, tapi aku tak sanggup karena wajahmu sangat mirip dengan wajah anak istri ketigaku”<br />
	”Maafkan aku juga, Pria besar” Kragh menatap mata Pria besar berkaca-kaca mengenang buah hatinya.<br />
	”Kalau kau bisa menjaga kerahasiaan tempat ini, besok kau boleh pergi!”<br />
	”Aku takkan pergi, kalau Grew tak pergi” Kragh berjanji pada pria besar<br />
Sudah larut,. Merekapun tertidur ditemani cahaya bulan sabit dan bintang-bintang yang masuk dari cela-cela atap gubug mereka.<br />
	Begitu banyak kisah yang telah mereka lalui, begitu banyak pula kesedihan,keharuan dan warna-warni yang terlukis di secarik cerita mereka berdua. Cahaya bulan sabit dan remang bintang-bintang tengah malam—menatap mereka berdua penuh haru. Bersinar selembut mungkin dan berdo’a pada langit untuk menhadiahkan mimpi paling indah. Setidaknya untuk malam ini.<br />
***<br />
	Di salah satu malam saat Kragh berfikir ulang untuk tetap disini atau mengajak Pria besar pergi. Ia menatap kosong gugusan bintang-bintang, membaringkan tubuh kurusnyadiatas pasir, tengadah menatap langit. Merenungkan masa-masa yang telah dilalui dan massa depan yang harus dilalui.<br />
	Perlahan aawan hitam berarak, menyelimuti bintang-bintang diatas sana. Dalam hitungan menit, tak satupun kerlip bintang yang tersisa. Bahkan gerimis kecil mulai turun berhambur dari balik awan itu. Mengacaukan seluruh tatapan kosong Kragh. Dan saat gerimis kecil itu berubah menjadi rintik, Kragh tak lagi bisa berfikir tentang kehidupannya.<br />
	Rintik-rintik itu semakin menjadi jadi, membentuk hujan lebat bersama deru angin. Kragh berlari menuju gubug, dilihatnya Pria Besar telah pulas dilarutkan mimpi. Diluar sana, halilintar terdengar mulai bergemuruh. Deru ombak juga semakin mengeras dan mengeras. Hm&#8230;, tampaknya akan terjadi badai besar malam ini. Mungkin saja lebih dahsyat dari badai-badai malam kemaren.<br />
***<br />
	Udara pagi menyentuh setiap isi gubug itu. Membangunkan Kragh dari tidur pulasnya. Kragh Mengucek-ngucek bola matanya, menatap keindahan pagi yang diwarnai riuh rendah suara ombak. Seperti biasa ia akan memulai aktifitasnya pagi ini. Pria besar sudah tak ada di atas tempat tidurnya. Belum sempat ia beranjak dari tempat tidurnya. Diluaar gubug itu, pria besar berteriak lantang memanggil namanya.<br />
	”Krrrrrrrrrrragh&#8230;!!!!”<br />
Kragh terkejut mendengarnya memanggil selantang itu, tak seprti biasanya. Ia bergegas menghampiri Pria Besar di bibir pantai. Memastikan apa maksud dari panggilan itu.<br />
	”Apa yang harus kita lakukan dengan orang ini?”</p>
<p>to be continued&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/04/%e2%80%9dkraghtino-sruption%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Reinkarnasi dan Maut dalam Kumpulan Cerpen</title>
		<link>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/04/reinkarnasi-dan-maut-dalam-kumpulan-cerpen/</link>
		<comments>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/04/reinkarnasi-dan-maut-dalam-kumpulan-cerpen/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 05:51:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iman safri lukman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[tentang cerpen]]></category>

		<category><![CDATA[khas cerita pendek (cerpen)]]></category>

		<category><![CDATA[Putu Fajar Arcana]]></category>

		<category><![CDATA[Reinkarnasi dan Maut dalam Kumpulan Cerpen]]></category>

		<category><![CDATA[Wisatsana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapendek.blog.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[SEBUAH cerita pendek (cerpen), mengingat kekhasannya, menuntut kepiawaian penulisnya dalam memilah dan memilih mana yang seyogianya tersurat atau tersirat. Dibandingkan semisal sebuah novel, bahasa prosanya cenderung lebih hemat, di mana bangunan keseluruhan cerita diharapkan tampil ringkas namun utuh. Maka, persoalan bentuk (stilistik) atau cara bertutur menjadi pergulatan tersendiri, yang dalam kenyataannya kerap menjadi batu sandungan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SEBUAH cerita pendek (cerpen), mengingat kekhasannya, menuntut kepiawaian penulisnya dalam memilah dan memilih mana yang seyogianya tersurat atau tersirat. Dibandingkan semisal sebuah novel, bahasa prosanya cenderung lebih hemat, di mana bangunan keseluruhan cerita diharapkan tampil ringkas namun utuh. Maka, persoalan bentuk (stilistik) atau cara bertutur menjadi pergulatan tersendiri, yang dalam kenyataannya kerap menjadi batu sandungan bagi penulis genre ini.</p>
<p>Bahkan, boleh dikata tidak sedikit cerpen mutakhir Indonesia abai akan bentuk, dan itu mengesankan para pengarangnya belum sepenuhnya menguasai teknik bercerita yang telah menjadi pilihannya. Bagaimana dengan karya Putu Fajar Arcana dalam kumpulan cerpen terbarunya, Samsara?</p>
<p>Kumpulan cerpen Samsara (2005) adalah buku kumpulan cerpen tunggal kedua karya sastrawan dan wartawan Putu Fajar Arcana. Buku ini berisi 12 cerpen dan diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (GPU) dengan ilustrasi lukisan karya Polenk Rediasa. Bila mencermati keseluruhan isi cerpen, segera terbaca bahwa buku ini adalah tahapan kreatif berikut setelah kumpulan cerpennya yang pertama, Bunga Jepun. Kesadaran akan pentingnya bentuk memang terasa mengemuka dalam buku kedua ini. Dalam pengantarnya, Jean Couteau, budayawan asal Prancis yang telah mukim lebih dari 30 tahun di Bali, mencermati bagaimana Fajar Arcana mencoba mengelak dari tema klise, yaitu tema sosial permukaan, eksotis, dan sebagainya-yang sejauh ini, disadari atau tidak, telah menjadi dinding pembatas kreativitas. Fajar menawarkan suatu pendekatan baru atas tema utama yang dipilihnya, yaitu Maut, dan melalui “Maut” pembaca diajak mengalami, menghayati, dan kemudian menjaraki “kematian” bukan lagi sebagai peristiwa menakutkan sebagaimana yang selama ini diyakini.</p>
<p>Melalui pendekatan yang ditawarkan itu, serta diungkapkan dalam pilihan bahasa yang jernih dan jauh dari dari kehendak bermetaforis, Fajar menggali “akar” kebaliannya dengan cara dan sudut pandang yang baru-dan justru menariknya, dia kini berhasil mengalami dan menyelami Balinya secara lebih mempribadi, tampil personal dan sekaligus universal. Sebagian besar tokoh dalam cerpennya digambarkan mengalami, menyadari, dan malahan kemudian mengisahkan proses mautnya.</p>
<p>Sang Aku yang tengah atau telah mengalami ajal itu dilukiskan sebagaimana layaknya dia masih hidup, penuh dengan kesadaran dan seakan tanpa kehilangan apa pun.</p>
<p>MAUT yang kerap dipersepsikan secara menakutkan oleh banyak kalangan, di tangan Fajar justru hadir menjadi suatu peristiwa alami biasa. Karena dia menolak klise, sosok Maut pun jadi banal. Di sini, nilai Jean Couteau, Fajar menawarkan cara pandang lain atas Maut. Sosoknya bukan lagi dipandang sebagai hal yang mencekam, bukan sebagai titik akhir, titik tanya atau titik seru seperti yang kerap digambarkan kebanyakan pengarang yang berlatar belakang agama Samawi-yaitu pengarang Yahudi, Kristen, Islam, dan sekuler modern-seperti pula pengarang Bali yang dipengaruhi ajaran-ajaran itu.</p>
<p>Bahkan, secara sadar, pengarang buku ini di dalam rangkaian ceritanya menegaskan pentingnya suatu sikap dan upaya kritis terhadap sistem kepercayaan Hindu-nya. Kecintaannya pada tanah kelahirannya tidak menghalanginya untuk menimbang Bali secara kreatif. Melalui perenungan dan pemertanyaan, Bali dan Hindu-nya tidak lagi hadir secara etnis-ornamentik atau semata ungkapan klise eksotik. Meski belum sepenuhnya tercapai, di sini terlihat juga upaya Fajar untuk menghindar dari penggambaran sosok fisik yang berlebihan dari para tokoh cerpennya (artifisial). Yang terkedepankan adalah persoalan batin (esensial), di mana sang tokoh meluapkan perasaan yang direnungkannya, dan hadir sebagai Roh atau Atma yang masih berada di sekitar tempat terjadinya kematian. Dengan kata lain, perpisahan Roh dari Tubuh tidak harus dinyatakan sebagai pertemuan penghabisan; atau tamatnya eksistensi seorang manusia. Keberadaan Roh atau Sang Atma yang mengisahkan peristiwa yang dialaminya pada dasarnya adalah kehadiran suatu supra-kesadaran yang dalam sebagian cerpen dituturkan melakukan pengelanaan antar- waktu/antarhidup.</p>
<p>Fajar, tentu dalam proses kreatif, mendatangi Maut, dan menemukannya tak lebih daripada suatu perenungan filsafati tentang batasan hidup, sesuatu yang tidak sepenuhnya lagi Hindu ataupun “Bali”, melainkan antar-kultur. Pendekatan akan tema Maut yang ditawarkan dengan sudut pandang baru itu tak pelak lagi mendorong Fajar berjuang menemukan “bentuk” (stilistik) yang memungkinkan terjadinya keutuhan dan kepaduan sebagaimana galibnya sebuah cerpen yang berhasil. Ketika mengerjakan kumpulan terbaru ini, Fajar tampaknya ia mencoba menerapkan sistem kerja para novelis, di mana ia mengandaikan diri sedang menggarap sebuah “proyek” bernama Samsara Writing Project. Oleh karena itu, sebelum menuliskan cerpen-cerpennya, Fajar mengadakan semacam studi kepustakaan dan wawancara dengan sejumlah pakar agama.</p>
<p>Dalam proyek Samsara, seperti yang diakuinya, ia tidak saja membaca buku-buku tentang agama yang membahas fenomena samsara atau reinkarnasi, tetapi juga membaca buku-buku tentang studi terapi psikologi yang kemudian dikenal dengan terapi regresi. Metode ini memakai hipnosis sebagai jalan untuk membuat seorang pasien kembali kepada masa lalu mereka. Di situlah kemudian metode Barat ini membuktikan bahwa manusia bisa mengalami beberapa kali reinkarnasi. Bahkan, jiwa seseorang bisa berasal dari beberapa serpih jiwa yang hidup dari masa puluhan tahun silam. Selain itu dalam kumpulan ini, Fajar juga mencoba menyusup memasuki alam bawah sadar seorang penderita skizofrenia, di mana keinginan-keinginan bunuh diri berasal dari suara-suara yang menggema di telinga. Itu terdapat dalam cerpennya Aku Temukan Diriku Terkapar di Ruang Penyekapan.</p>
<p>SELAIN studi itu, sebagai manusia Bali yang sekarang menetap di Jakarta, Fajar memiliki jarak pandang yang kritis terhadap daerah tempat kelahirannya. Ia bisa secara bebas menafsir, mengkaji, dan bahkan mengkritik Bali. Hal ini dimungkinkan mengingat Negara, kota kelahiran dan masa awal pertumbuhan intelektualnya, adalah suatu daerah pesisir yang boleh dikata paling awal mengenal semangat multikultur dalam pergaulan kesehariannya. Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan tanah Jawa, hanya dipisah oleh selat sempit yang mudah diseberangi, nilai-nilai tradisi disikapi dan dijalankan dengan lebih terbuka.</p>
<p>Berbeda dengan kota-kota lain di Bali, kecuali Singaraja, patron-patron warisan sejarah yang feodal nyaris/bahkan bisa dikatakan sudah kehilangan perannya di Negara. Jadi, bukan suatu yang mengejutkan, bila dalam proyek Samsara ini Fajar terlihat leluasa mencoba melakukan sinergi antara pemahaman teks soal reinkarnasi dan memori kulturalnya sebagai manusia Bali. Maka, dalam cerpen-cerpennya, bukan hal yang mengherankan bila sering kali terjadi seorang pencerita atau tokoh bisa bercerita dengan bebas kendati ia sudah meninggal.</p>
<p>Misalnya, dalam cerpen Requiem, sosok si mati dikisahkan menyadari mautnya sebagai atma yang hadir di sekitar tempat peristiwa kematian itu terjadi, lalu terlahir kembali sebagai anjing tanpa adanya hambatan apa pun untuk berlaku sebagaimana “aku” sebelumnya. Tak jauh beda juga cerpen Drupadi, terilhami kisah Sang Drupadi dalam Mahabharata, seseorang mengalami lebih dari seratus kali penjelmaan. Sedangkan dalam Baru Saja Kusadari Tentang Kematian, Fajar malahan mengisahkan dengan ringan perihal proses kematian itu sendiri, seolah dia mengalami saat-saat Maut menjemput dan mampu menjaga sudut pandang penceritaannya agar tak tergelincir menjadi kisahan yang mencekam. Realitas yang diolah Fajar itu sesungguhnya dengan mudah bisa ditemui ketika orang Bali mendatangi balian (setara dukun) untuk menanyakan segala soal di seputar kehidupan sehari-hari. Di situ, realitas sehari-hari tidak lagi berjarak dengan realitas-spiritual dan bahkan realitas mitos.</p>
<p>Dalam cerpen-cerpen yang lain, Fajar melalui “Maut” yang kali ini seakan hanya jadi sampiran, bisa juga bertutur perihal masalah psikologis, sosial dan politis, juga tekanan yang dihadapi kaum urban perkotaan. Misalnya Lantai Tiga Belas; Menjelang Tidur Kupadamkan Lampu; Kado yang Terlambat Tiba; atau juga Kereta Senja. Di situ masalah sosial atau konflik politik dan psikologis yang dihadapi para tokohnya bukan sekadar dihadirkan melulu secara sosial, politis atau psikologis, melainkan melalui teropong filsafat Maut: tak ayal lagi cerpen-cerpen Fajar menyajikan sudut pandang yang segar.</p>
<p>Sosok Maut yang dieksplorasi dengan cara pandang Fajar itu biasa dibaca sebagai cara pengarang untuk menegaskan adanya tema acuan, yaitu kekerasan dalam berbagai bentuknya. Kekerasan ini dihadirkan sebagai kekerasan adat/tradisi, kekerasan rumah tangga, atau juga kekerasan politik dan kekuasaan. Kekerasan yang diselubungi atau dibayang-bayangi Maut ini niscaya adalah kesengajaan dari pengarang untuk mengkritisi anggapan yang berkembang selama ini tentang Bali yang selalu digambarkan indah dan tenteram itu. Pewacanaan tentang Bali yang sejauh ini cenderung normatif: selalu diandaikan sebagai sepotong surga terakhir atau tanah dewata yang tersisa di bumi, ini terlalu ideal dan tanpa disadari mereduksi Bali semata hanya pada eksotika.</p>
<p>Pandangan stereotip macam ini-yang awalnya dikumandangkan berulang oleh kaum kolonial Belanda dan kemudian dilestarikan oleh Orde Baru dengan jargon pariwisata-budaya-telah menerakan, dalam istilah Jean Couteau, suatu pseudo identitas tertentu. Lambat laun sosok Bali yang semu ini diyakini sebagai kebenaran, bahkan oleh orang Bali sendiri, dan sedikit banyak turut menciptakan semacam alienasi kultural pada orang Bali umumnya.</p>
<p>Putu Fajar Arcana, yang dilahirkan dan dibesarkan dalam kultur Bali, membuka kesempatan pada pembaca untuk menyaksikan sengitnya pergulatan di sekitar fenomena itu. Apalagi pseudo indentitas itu, bila telah mengungkung seseorang atau masyarakat, terbukti amat potensial membatasi kreativitas, menjadikan seseorang/masyarakat cenderung tertegun pada kekaguman atau bereaksi sebaliknya mengajukan kritik sosial yang berlebihan; bersifat permukaan dan klise; tema yang digarap juga akhirnya bersifat klise dan dengan sudut pandang yang nyaris berulang. Pengarang Bali lainnya sebagian tentu menyadari akan tantangan ini. Akan tetapi, tidak sedikit juga yang berada dalam lilitan eksotika yang boleh jadi dirasa “menenteramkan” ini.</p>
<p>JARAK kreatif yang dicoba direntangkan Fajar atas Bali sebagai mata air penciptaannya menarik juga disandingkan dan dibandingkan dengan upaya penulis lainnya yang dalam banyak hal memiliki kedekatan soal yang sama; yaitu berhadapan dengan akar tradisi yang masih kukuh menancap, setengah punah, atau yang tengah berubah perangainya; menuju sesuatu yang belum terbayangkan. Sekadar menyebut contoh, ada Gus Tf dengan Minangkabaunya, Taufik Ikram Jamil dengan Riaunya, Zain Hae dengan Betawinya; Sitok Srengenge, Triyanto Triwikromo, Gunawan Maryanto semua dengan kejawaannya. Bagaimana pula fenomena kehadiran mereka bila dibandingkan dengan para penulis tahun 70-an yang menegaskan semangat kembali ke akar sebagai pilihan kemungkinan estetiknya. Diperlukan telaah yang lebih jauh dan lebih mendalam, bukan saja karena kompleksitas masalahnya, melainkan juga kenyataan yang tak terpungkiri bahwa tidak kurang banyaknya dari penulis tahun 70-an yang hingga kini masih berkarya.</p>
<p>Cerpen-cerpen di dalam Samsara ditulis Putu Fajar Arcana antara tahun 2003-2005. Buku ini seolah-olah menyodorkan berbagai fenomena dan fakta di seputar kepercayaan dan kenyataan reinkarnasi. Ia tak lagi diletakkan dalam posisi ajaran, tetapi sebagai teks yang terbuka untuk berbagai interpretasi.</p>
<p>sumber: <a href="http://dilarangmelarang.wordpress.com/2007/05/07/reinkarnasi-dan-maut-dalam-kumpulan-cerpen/#comment-205">Warih Wisatsana Penyair, Tinggal di Denpasar</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/04/reinkarnasi-dan-maut-dalam-kumpulan-cerpen/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>mestinya kau tak tersenyum seindah itu</title>
		<link>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/03/google86719f947f4c11e6html/</link>
		<comments>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/03/google86719f947f4c11e6html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 04:19:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iman safri lukman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<category><![CDATA[mestinya kau tak tersenyum seindah itu]]></category>

		<category><![CDATA[sayang]]></category>

		<category><![CDATA[senyum]]></category>

		<category><![CDATA[vespa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapendek.blog.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[	Langit sore begitu indah membius mata, menghadirkan lukisan awan berbalut sinar mentari yang tak lama lagi akan meredup. Beberapa burung kecil menari mengitari keramaian jalan. Meski suara mereka tertutup oleh arus kendaraan yang melintas berselang seling. Aku tak bisa berkedip menatap langit, walau keangkuhan kota meleburkan keindahan itu sedikit demi sedikit.
	Jingga disana sudah hampir hilang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>	Langit sore begitu indah membius mata, menghadirkan lukisan awan berbalut sinar mentari yang tak lama lagi akan meredup. Beberapa burung kecil menari mengitari keramaian jalan. Meski suara mereka tertutup oleh arus kendaraan yang melintas berselang seling. Aku tak bisa berkedip menatap langit, walau keangkuhan kota meleburkan keindahan itu sedikit demi sedikit.<br />
	Jingga disana sudah hampir hilang digantikan kelabu dan hitam malam. Suara adzan mulai terdengar mengalun-bersahut dari corong-corong masjid. “Ah begitu singkatnya kunikmati keindahan itu”.—Hatiku berbisik pelan.<br />
	“Pulang Dzan?” Rian menepuk pundakku<br />
	“Iya sudah maghrib” jawabku “cabut ya”<br />
	“Yo’i, thanks udah nemenin dari tadi siang, bro”<br />
kutinggalkan studio kawanku. Bergegas pulang berharap waktu maghrib belum habis sesampai dirumah, karena ragu akan kesucian pakaianku yang akan kubawa bertemu DIA jika memaksakan sholat di masjid sana. Lagipula jeans yang kukenakan juga bolong-bolong. Ah mudah-mudahan Vespa butut ini tidak bawel di tengah jalan.<br />
	Do’aku dikabulkan, Tuhan masih sayang padaku, IA membiarkan kendaraan yang kunaiki sehat walafiat. Menjadikan perjalanan pulangku mulus tanpa halangan. BRUMM…….!!!!. sampai juga dirumah tercinta.<br />
***<br />
	Aku sayang padamu hujan, karena gerimis dan rintikmu selalu menyentuh kegersangan hatiku yang paling dalam. Seperti siang ini kulihat kalian dari balik jendela kaca, turun menetes dari langit luas. Aku kagum pada kejahilanmu yang bisa memaksaku berteduh. Dan kali ini kalian meneduhkanku di dalam sebuah toko boneka, tak bisa beranjak sama sekali. Kalian memaksaku menikmati keindahanmu. Bahkan mengejutkanku dengan pelangi yang kau buat saat rintikmu telah mereda.<br />
	“Mas tasnya kebuka” Seseorang berujar sambil menunjuk tas yang kubawa<br />
	“Eh iya, thanks mba’.” Aku tersenyum, tas itu kukancingkan.<br />
	“Panggil Ri aja,”<br />
	“Thanks Ri, saya Adzan”<br />
	“Sama-sama mas Adzan”<br />
	“Ga asyik ah panggil mas, Adzan aja ya”<br />
	“Ya, duluan ya” Perbincangan sampai disitu, dia pergi. Butir-butir rintik menyentuh jilbab pinknya, kantong pelastik belanjaan yang ia bawa ikut berayun mengikuti lari kecil itu. Meninggalkan aku yang masih betah menatap pelangi dari balik toko. Seketika ia berbalik, menatapku dan tersenyum. Sebuah senyum yang teramaaaat manis, membuat keindahan gerimis dan pelangi jadi tak berarti. Sebuah senyum yang labih dalam menyentuh kegersangan hati. Aku termangu, tak membalas senyumanya tak melambaikan tangan bahkan tak berlari mengejarnya. Aku benar-benar termangu oleh keindahan senyum itu. Sampai ia menghilang kala angkot membawanya pergi akupun masih termangu.<br />
	Lamun telah membawaku terbang menyentuh pelangi di atas sana. Membuatku terhanyut bahkan terlelap di tumpukan awan. Dan kemudian menjatuhkanku kembali kealam sadar. Kealam realitas dimana seorang bidadari dengan senyum semanis itu  adalah milik seorang pangeran dengan kelebihan tak terbatas. Bukan lelaki biasa sepertimu “Ibrahim Adzan Satria”.<br />
	Mulai saat itu, hujan dan pelangi akan selalu mengingatkanku pada senyumnya. Semakin lama kutatap keindahan hujan dan pelangi semakin lama pula senyum itu membayang. Terkadang menyejukkan terkadang begitu menyiksa. Ah biarlah langit yang menuntunku menemukan senyum itu. Bukankah Sang Penguasa akan selalu memberikan yang terbaik untuk kita.<br />
***<br />
	Jam dinding kamar terdengar kencang sekali berdetak, mengalunkan detak tempo konstant dan monoton. Tak bisa kulanjutkan membalik halaman “maryamah karvof” ditanganku. Oah …….!!! Aku ngantuk. Bahkan tempo monoton tadi mulai terdengar menjadi alunan ‘Mozart’ yang siap meninabobokan. Tubuh ini terbaring, memeluk bantal dan menaikkan selimut. Serta tak lupa berkreasi membuat ‘peta abstrak’ diatas bantal (hehe). Semoga malam ini mimpi mempertemukan lelaki ini pada senyum itu….<br />
	“Tit tit tiiiiiiiit….tit!”<br />
	“Ah siapa sih malam-malam begini nelfon?” aku menggerutu<br />
	“Halo yan, ada apa?”<br />
	“Gawat dzan, ke studio sekarang buruan!!!” terdengar sekali suara Ryan sangat ketakutan<br />
	“ada ap…” belum sempat aku bertanya apa yang terjadi “tut tut tuuuuuut” suara Ryan sudah tak ada, panggilanya berakhir. Aku cemas, takut dan penasaran. Ibu bertanya-tanya dan sempat melarangku tuk pergi malam-malam begini. Tapi setelah kujelaskan bahwa mungkin saja kawanku tersebut dalam bahaya, baru ia mengizinkan. Vespa kesayangnku kubawa menerobos malam, menuju studio Ryan. Dan kurang dari 25 menit aku sudah sampai disana.<br />
	Wajahnya pucat pasi, beberapa tetes darah tercecer di atas karpet bulu. Menetes dari tangan dan pelipisnya. Pun keringat merembes dari T-shirt yang ia kenakan. Tatapanya kosong menatap “electric guitar” yang terpajang di pojok sebelah kanan. Aku mengahampiri, kemudian duduk disampingya.<br />
	“Apa yang terjadi bro?” tanyaku<br />
	“Ben..” Hanya itu yang kudengar dari mulut sahabatku itu<br />
	“Orang itu cari gara-gara lagi?” lanjutku penuh selidik<br />
	“Ya, kali ini dia menghina ibu, dia bilang ibuku….” Ryan tak dapat melanjutkannya.<br />
	“Trus knapa tangan ma pelipismu?” aku menunjuk pelipisnya<br />
	“Kena keroyok”<br />
	“seperti biasa, Besok kita kumpulin kawan trus kita uber kingkong itu?” tanyaku<br />
	“Ga usah, dia sekarang mungkin di rumah sakit, kutabrak pake motor”<br />
Hening sejenak, aku berfkir apa yang harus kulakukan saat ini.<br />
	“Oke,sekarang kita kerumahku. Gak aman disini lagian luka itu harus di obati”<br />
Ryan melangkah limbung keluar dari stodionya, kami mengendarai motor masing-masing, ia masih sanggup membawa motornya meski kondisi tubuhnya seperti itu., tak lagi kutoleh studio itu yang telah tergembok rapat. Kami langsung kerumahku.<br />
	Ibu hampir berteriak menatapku memapah Ryan dengan tetes darah di lengan dan pelipisnya, meski tetes-tetesnya tidak sederas tadi bahkan ada yang talah mengering. Kubaringkan sahabatku tu di sofa, ibu ke belakang mengambil air hangat, perban dan obat luka. Dngan sedikit memaksa kusuruh wanita yang telah melahirkanku tersebut untuk tidur dan memastikan baha Ryan akan baik-baik saja.<br />
	“Biar aku bu” kuambil baskom dari tangan ibu<br />
	“Ibu tidur saja, ga ada yang perlu dikhawatirkan Ryan akan baik-baik saja kok”<br />
Wanita paruh baya itu akhirnya mau pergi kekamar stelah aku tersenyum dan menatap lekat mata teduhnya. Walau masih ada sisa-sisa cemas di wajahnya.<br />
	Kubersihkan luka-luka Ryan dengan air hangat, sesekali ia memicingkan matanya menahan sakit. Masih ada darah yang keluar merembes dari perban yag telah kubalutkan di lengannya. Syukurlah luka di pelipisnya tidak trlalu parah, hanya butuh plaster untuk menutupinya.<br />
	“Minum?” tanyaku kepada Ryan, usai merawat lukanya<br />
	“Bentar” aku kebelakang, setelah Ryan menganggukan kepalanya, tanda ia kehausan.<br />
	“Ni” aku meletakkan du gelas air putih di atas meja.<br />
	“Mo di kamar pa di sini?”<br />
	“Kamarmu saja dzan”<br />
Aku memapahnya menuju kamarku setelah ia menghabiskan segelas minumnya.<br />
	Di kamar, banyak hal yang kudengar dari Ryan. Tadi sore setelah ia—kawanku tersebut pulang kerumahnya dari studio. Ia dihadang oleh Ben dan 3 orang kawannya tepat di lorong sempit 3 blok dari keramaian pasar. Ben ialah musuh bebuyutan kami. Tak tau persis cikal bakal permusuhan abadi ini. Tapi yang jelas ini masalah harga diri. Ryan salah satu sahabatku yang paling enggan untuk mencari-cari masalah. Aku faham sekali sifatnya. Tapi setelah kata-kata ejekan Ben mengikutsertakan ibunya, ia langsung naik pitam. Tanpa berfikir panjang ia tabrakkan motor yang masih ia nyalakan, ben terjungkal. Salah satu kawan ben membantunya berdiri dan dua orang lagi menghantam Ryan dengan bilah balok yang tergeletak di lorong itu. Lengan Ryan memar dan terluka karena menangkis balok tersebut. Motor yang ia kendarai oleng menabrak dinding lorong, beruntung tak terbalik dan motor masih menyala. Hanya saja kepalanya membentur stang motor. Tanpa fakir panjang ia pacu motor itu. Sampai akhirnya ia sampai di studionya dan menelfonku.<br />
	Siapa yang tidak marah kalau wanita yang telah melahirkan,membesarkan dan sangat kita sayangi di samakan dengan seorang mucikari? Hanya orang dengan kesabaran seperti nabi yang bisa tersenyum mendengar ibunya dilecehkan seperti itu. Aku merenungi cerita sahabatku.<br />
	Adzan terdengar sayup di ujung sana menyerukan untuk bertemu dengan sang pencipta. Subuh ini, mudah-mudahan bisa menenangkan hati sahabatku. Kami berjemaah meski kuyakin rasa sakit di lengan itu, sedikit menggangu kekhusyukan subuhnya kali ini.<br />
***<br />
	Bak ‘james bourne’ dalam film ‘bourne identity, supremacy dan ultimatum’ kami bersama teman-teman yang lain. Membuat siasat dan taktik untuk mengantisipasi serangan balasan kelompok Ben. Membentuk tim pengintai, menyediakan alat-alat, menyusun diplomasi dan taktik lainnya. Beberapa titik yang dianggap rawan seperti studio Ryan dan bengkel Agung yang menjadi ‘base camp’ mendapat pengawalan yang cukup ketat. Jaringan komunikasi di atur ulang demi kemudahan saat diperlukan untuk saling berhubungan via telfon seluler. Track pelarian dan persembunyian juga tak luput dari perhatian.<br />
	Ben, sebagai ketua kelompok mereka masih terkapar dirumah sakit. Tulang rusuknya patah. Sehingga untuk beberapa saat masih membutuhkan perawatan intensive. Informasi tersebut datang dari pengintaian yang bertugas mengamati gerak-gerik kelompok Ben. Sejauh ini kelompok mereka belum menunjukkan akan melakukan serangan balasan. Situasi masih terkandali meski Agung yang bertindak sebagai ketua kelompok kami mengintruksikan untuk siaga. </p>
<p>to be continued&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/03/google86719f947f4c11e6html/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Cerpen Mba Roseheart..!</title>
		<link>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/02/tips-cerpen-mba-roseheart/</link>
		<comments>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/02/tips-cerpen-mba-roseheart/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 04:48:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iman safri lukman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[tips menulis cerpen]]></category>

		<category><![CDATA[BAGAIMANA MEMBUAT DRAFT PERTANYAAN ITU..??]]></category>

		<category><![CDATA[kompetisi cerpen]]></category>

		<category><![CDATA[membuat Daftar pertanyaan yang sederhana]]></category>

		<category><![CDATA[pemilihan Tema kali ini gue Bilang sangat menarik]]></category>

		<category><![CDATA[temanya tidak lazim]]></category>

		<category><![CDATA[Tips Cerpen Mba Roseheart..!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapendek.blog.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Minggu ini, dunia Bloggaul Indosiar lagi-lagi diramaikan dengan kompetisi cerpen yang untuk ke dua kali dalam Tahun ini diadakan oleh Mba rose heart.
Lepas dari hadiah yang cukup menggiurkan yang ditawarkan oleh Mba rose. pemilihan Tema kali ini gue Bilang sangat menarik.
Emang sech temanya tidak lazim, tapi bukan berarti sesuatu yang sangat rumit.
Menjadi rumit atau tidaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu ini, dunia Bloggaul Indosiar lagi-lagi diramaikan dengan kompetisi cerpen yang untuk ke dua kali dalam Tahun ini diadakan oleh Mba rose heart.</p>
<p>Lepas dari hadiah yang cukup menggiurkan yang ditawarkan oleh Mba rose. pemilihan Tema kali ini gue Bilang sangat menarik.</p>
<p>Emang sech temanya tidak lazim, tapi bukan berarti sesuatu yang sangat rumit.</p>
<p>Menjadi rumit atau tidaknya sesuatu itu, tergantung dari cara pandang kita.<br />
kalau secara pribadi, tiap kali aku ketemu dengan &#8221; Sesuatu &#8221; yang tidak lazim. pertanyaan yang terlintas di otak gue &#8221; APAKAH ITU..??&#8221;</p>
<p>Contohnya kayak tema cerpen mba rose kali mengenai Lawyers. Gue harus cari tahu dulu dong sebelum memulai.</p>
<p>cara yang sering gue lakuin kalau menemukan hal semacam ini, adalah membuat Daftar pertanyaan yang sederhana, menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah gue pahami.</p>
<p>Artinya gue ngga bakalan memulai mengerjakan sesuatu yang rumit dengan awal yang Rumit. karna itu sama saja Mencekik Leher gue sebelum gantung diri.</p>
<p>Nah berikut beberapa Draft pertanyaan-pertanyaan yang gue buat untuk tema cerpen Mba rose kali ini,</p>
<p>&#8221; Apa Itu pengacara..?&#8221;<br />
&#8221; Mereka siapa..?&#8221;<br />
&#8221; Bagaimana Pengacara itu..?&#8221;<br />
&#8221; Bagaimana Kalau mau jadi pengacara..?&#8221;<br />
&#8221; Mereka kerja dimana..?&#8221;<br />
&#8221; Lingkungan pergaulannya dimana yah..?&#8221;<br />
&#8221; APa yang mereka lakukan dengan pekerjaan mereka sebagai pengacara..?&#8221;<br />
&#8221; Siapa Rival/kompetitor mereka..?&#8221;<br />
&#8221; apa nama tempat kerja mereka..?&#8221;<br />
&#8221; Dimana mereka bisa ditemui..?&#8221;dan sebagainya..!</p>
<p>Dari pertanyaan2 dasar yang sederhana diatas tersebut, pasti akan melahirkan pertanyaan baru yang mungkin sebelumnya tidak sempat terlintas diotak kita.</p>
<p>semakin banyak pertanyaan dasar ini melahirkan pertanyaan yang baru. semakin banyak pula Informasi yang kita dapatkan, iya Ngga..?</p>
<p>Nah lalu bagaimana mencari jawabannya..?? Guys..! hari gene..masih bingung..? pilihan terbuka lebar buat kita.</p>
<p>Mau yang gratisan..?? hubungi teman2 yang mengerti soal hukum, kalau ngga ada yach cari kenalan hehehehe&#8230;!siapa tahu bisa dapet gebetan seorang pengacara.</p>
<p>Mau yang Agak Murah..? Main internet, temui Mba Google, tongrongin Blognya Mba rose ajukan pertanyaan2 seputar pengacara. cari film2 tentang Pengacara di You tube, atau resensi2 buku tentang pengacara Dsb. yang berkaitan dengan pertanyaan2 yang kalian butuhkan.</p>
<p>atau kalau ada duit lebih, kita bisa beli buku-buku yang berkaitan soal hukum dan kehidupan pengacara.</p>
<p>Tapi intinya seperti yang gw bilang sebelumnya. buatlah dulu draft apa saja yang kita butuhkan untuk memulai membuat cerpen ini.</p>
<p>Nah pertanyaan yang selanjut yang bisa saja muncul, BAGAIMANA MEMBUAT DRAFT PERTANYAAN ITU..??, karna kadang kita ada disituasi kita NGGA NGERTI TAPI TIDAK TAHU APA YANG MAU DITANYAKAN, wah ini sech parah..!</p>
<p>Makanya buatlah pertanyaan sesimple saja, jangan membuat pertanyaan2 seorang pengacara.tapi buatlah pertanyaan tentang seorang pengacara.<br />
karna tema yang dimintakan tentang seorang pengacara..??</p>
<p>Nah kalau semua pertanyaan dasar tersebut sudah kalian dapetin dan sudah cukup untuk membuat satu tokoh sentral dari tokoh pengacara ini.</p>
<p>Maka nextnya, kita mau apakan pengacara ini dalam cerpen yang akan kita buat&#8230;? apa yang akan dilakukan pengacara ini dicerpen kita..? dan banyak lagi pertanyaan2 yang bisa ada lagi ditahap ini. dan ini akan menambah pundi pengetahuan kita lagi bukan..??</p>
<p>Dan semakin banyak pertanyaan dan jawaban yang kita dapet, maka kita akan lebih mudah untuk memulai membuat cerpen ini, kan tinggal merangkai dan menyatukan jawaban-jawaban dari pertanyaan2 yang kita buat, iya ngga..? Mudahkan..?</p>
<p>so masih mau di bilang rumit..??</p>
<p>Oke Friends, gw sebenarnya berbagi tips ini bukan karna gue telah jago buat cerpen, karna jujur gue juga lagi berburu informasi tentang tema ini ditengah tumpukan kerja gue, jadi sory banget gue belum bisa JJS keblog lain, karna keterbatasan ON Line gue dikantor, makanya begitu OL gue lebih sering berkencan dengan Mba Google atau numpang lewat dikit diBlog Mba Rose untuk cari informasi<br />
baru mengenai tema cerpen ini.</p>
<p>sumber : http://www.bloggaul.com/mhimi/readblog/93274/tips-cerpen-mba-roseheart</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/02/tips-cerpen-mba-roseheart/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Menulis Cerpen</title>
		<link>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/02/tips-menulis-cerpen/</link>
		<comments>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/02/tips-menulis-cerpen/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 04:41:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iman safri lukman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[tips menulis cerpen]]></category>

		<category><![CDATA[Cerita dalam sebuah cerpen yang efektif]]></category>

		<category><![CDATA[jumlah kata-kata]]></category>

		<category><![CDATA[menulis cerpen]]></category>

		<category><![CDATA[Penokohan]]></category>

		<category><![CDATA[tulisan Anda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapendek.blog.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Struktur
Para penulis pemula seringkali disarankan untuk menggunakan pengandaian berikut ini ketika mulai menyusun cerpen mereka:
1. Taruh seseorang di atas pohon.
2. Lempari dia dengan batu.
3. Buat dia turun.
Kelihatannya aneh, tapi coba Anda pikirkan baik-baik, karena saran ini bisa diterapkan oleh penulis mana saja. Nah, ikuti langkah- langkah perencanaan seperti yang disarankan di bawah kalau Anda ingin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Struktur<br />
Para penulis pemula seringkali disarankan untuk menggunakan pengandaian berikut ini ketika mulai menyusun cerpen mereka:</p>
<p>1. Taruh seseorang di atas pohon.<br />
2. Lempari dia dengan batu.<br />
3. Buat dia turun.</p>
<p>Kelihatannya aneh, tapi coba Anda pikirkan baik-baik, karena saran ini bisa diterapkan oleh penulis mana saja. Nah, ikuti langkah- langkah perencanaan seperti yang disarankan di bawah kalau Anda ingin menulis cerpen-cerpen yang hebat.</p>
<p>Perencanaan Cerpen<br />
Taruh seseorang di atas pohon: munculkan sebuah keadaan yang harus dihadapi tokoh utama cerita.</p>
<p>Lempari dia dengan batu: Dari keadaan sebelumnya, kembangkan suatu masalah yang harus diselesaikan si tokoh utama tadi. Contoh: Kesalahpahaman, kesalahan identitas, kesempatan yang hilang, dan sebagainya.</p>
<p>Buat dia turun: Tunjukkan bagaimana tokoh Anda akhirnya mengatasi masalah itu. Pada beberapa cerita, hal terakhir ini seringkali juga sekaligus digunakan sebagai tempat memunculkan pesan yang ingin disampaikan penulis. Contoh: Kekuatan cinta, kebaikan mengalahkan kejahatan, kejujuran adalah kebijakan terbaik, persatuan membawa kekuatan, dsb.</p>
<p>Ketika Anda selesai menulis, selalu (dan selalu) periksa kembali pekerjaan Anda dan perhatikan ejaan, tanda baca dan tata bahasa. Jangan menyia-nyiakan kerja keras Anda dengan menampilkan kesan tidak profesional pada pembaca Anda.</p>
<p>Praktekkan perencanaan sederhana ini pada tulisan Anda selanjutnya.</p>
<p>Tema<br />
Setiap tulisan harus memiliki pesan atau arti yang tersirat di dalamnya. Sebuah tema adalah seperti sebuah tali yang menghubungkan awal dan akhir cerita dimana Anda menggantungkan alur, karakter, setting cerita dan lainnya. Ketika Anda menulis, yakinlah bahwa setiap kata berhubungan dengan tema ini.</p>
<p>Ketika menulis cerpen, bisa jadi kita akan terlalu menaruh perhatian pada satu bagian saja seperti menciptakan penokohan, penggambaran hal-hal yang ada, dialog atau apapun juga, untuk itu, kita harus ingat bahwa kata-kata yang berlebihan dapat mengaburkan inti cerita itu sendiri.</p>
<p>Cerita yang bagus adalah cerita yang mengikuti sebuah garis batas. Tentukan apa inti cerita Anda dan walaupun tema itu sangat menggoda untuk diperlebar, Anda tetap harus berfokus pada inti yang telah Anda buat jika tidak ingin tulisan Anda berakhir seperti pembukaan sebuah novel atau sebuah kumpulan ide-ide yang campur aduk tanpa satu kejelasan.</p>
<p>Tempo Waktu<br />
Cerita dalam sebuah cerpen yang efektif biasanya menampilkan sebuah tempo waktu yang pendek. Hal ini bisa berupa satu kejadian dalam kehidupan karakter utama Anda atau berupa cerita tentang kejadian yang berlangsung dalam sehari atau bahkan satu jam. Dan dengan waktu yang singkat itu, usahakan agar kejadian yang Anda ceritakan dapat memunculkan tema Anda.</p>
<p>Setting<br />
Karena Anda hanya memiliki jumlah kata-kata yang terbatas untuk menyampaikan pesan Anda, maka Anda harus dapat memilih setting cerita dengan hati-hati. Disini berarti bahwa setting atau tempat kejadian juga harus berperan untuk turut mendukung jalannya cerita. Hal itu tidak berarti Anda harus selalu memilih setting yang tipikal dan mudah ditebak. Sebagai contoh, beberapa setting yang paling menakutkan bagi sebuah cerita seram bukanlah kuburan atau rumah tua, tapi tempat-tempat biasa yang sering dijumpa pembaca dalam kehidupan sehari-hari mereka. Buatlah agar pembaca juga seolah-olah merasakan suasana cerita lewat setting yang telah dipilih tadi.</p>
<p>Penokohan<br />
Untuk menjaga efektivitas cerita, sebuah cerpen cukup memiliki sekitar tiga tokoh utama saja, karena terlalu banyak tokoh malah bisa mengaburkan jalan cerita Anda. Jangan terlalu terbawa untuk memaparkan sedetail-detailnya latar belakang tiap tokoh tersebut. Tentukan tokoh mana yang paling penting dalam mendukung cerita dan fokuskan diri padanya. Jika Anda memang jatuh cinta pada tokoh-tokoh Anda, pakailah mereka sebagai dasar dalam novel Anda kelak.</p>
<p>Dialog<br />
Jangan menganggap enteng kekuatan dialog dalam mendukung penokohan karakter Anda, sebaliknya dialog harus mampu turut bercerita dan mengembangkan cerita Anda. Jangan hanya menjadikan dialog hanya sebagai pelengkap untuk menghidupkan tokoh Anda. Tiap kata yang ditaruh dalam mulut tokoh-tokoh Anda juga harus berfungsi dalam memunculkan tema cerita. Jika ternyata dialog tersebut tidak mampu mendukung tema, ambil langkah tegas dengan menghapusnya.</p>
<p>Alur<br />
Buat paragraf pembuka yang menarik yang cukup membuat pembaca penasaran untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Pastikan bahwa alur Anda lengkap, artinya harus ada pembukaan, pertengahan cerita dan penutup. Akan tetapi, Anda juga tidak perlu terlalu berlama-lama dalam membangun cerita, sehingga klimaks atau penyelesaian cerita hanya muncul dalam satu kalimat, dan membuat pembaca merasa terganggu dan bingung dalam artian negatif, bukannya terpesona. Jangan pula membuat &#8220;twist ending&#8221; (penutup yang tak terduga) yang dapat terbaca terlalu dini, usahakan supaya pembaca tetap menebak-nebak sampai saat-saat terakhir. Jika Anda membuat cerita yang bergerak cepat, misalnya cerita tentang kriminalitas, jagalah supaya paragraf dan kalimat-kalimat Anda tetap singkat. Ini adalah trik untuk mengatur kecepatan dan memperkental nuansa yang ingin Anda sajikan pada pembaca.</p>
<p>Baca ulang<br />
Pembaca dapat dengan mudah terpengaruh oleh format yang tidak rapi, penggunanaan tanda baca dan tata bahasa yang salah. Jangan biarkan semua itu mengganggu cerita Anda, selalu periksa dan periksa kembali.</p>
<p>sumber: http://selepas-lautan.blogspot.com/2007/07/how-to-write-poem.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/02/tips-menulis-cerpen/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>tips menulis cerpen(cerita pendek)</title>
		<link>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/02/tips-menulis-cerpencerita-pendek/</link>
		<comments>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/02/tips-menulis-cerpencerita-pendek/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 04:14:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iman safri lukman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[tips menulis cerpen]]></category>

		<category><![CDATA[tips menulis cerpen(cerita pendek)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapendek.blog.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Menulis cerpen (cerita pendek) dapat menjadi permulaan karir yang baik sebagai penulis fiksi. Menulis cerita yang sangat panjang, seperti novel pastilah lebih membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup banyak. Belum lagi mencari penerbit yang mau menerbitkannya. Cerita pendek dapat menjadi terobosan dalam karir menulis. Lebih banyak alternatif bagi penulis cerita pendek untuk dikenal, daripada novel. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menulis cerpen (cerita pendek) dapat menjadi permulaan karir yang baik sebagai penulis fiksi. Menulis cerita yang sangat panjang, seperti novel pastilah lebih membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup banyak. Belum lagi mencari penerbit yang mau menerbitkannya. Cerita pendek dapat menjadi terobosan dalam karir menulis. Lebih banyak alternatif bagi penulis cerita pendek untuk dikenal, daripada novel. Majalah dan koran banyak yang menerima cerita pendek. Blog bisa juga menjadi alternatif dimuatnya cerita pendek di internet. Seringnya nama penulis muncul dalam cerita pendek yang dimuat di berbagai majalah dan koran, bisa menjadi pertimbangan positif bagi penerbit, bila penulis tersebut menyodorkan naskah cerita yang lebih panjang seperti novel ke penerbit.</p>
<p>Tulisan ini ditujukan pada penulis pemula yang ingin menulis cerita pendek dengan baik. Sesuai namanya, menulis cerita pendek memiliki keunikan tersendiri.</p>
<p><strong>Tema</strong><br />
Sebaiknya Anda memiliki tema yang jelas saat menulis cerpen, tentang cerita seperti apa yang ingin Anda tulis. Pesan apa yang ingin Anda sampaikan kepada pembaca. Dengan adanya tema, yang menjadi tulang punggung cerita, maka cerpen Anda akan meninggalkan kesan tersendiri pada pembaca. Penetapan tema dari awal juga berguna agar saat menulis, Anda tidak terlalu jauh melenceng dari cerita sudah ditetapkan.</p>
<p><strong>Alur cerita</strong><br />
Fokuslah pada satu alur cerita sesuai dengan tema yang sudah ditetapkan sebelumnya. Karakter tambahan, sejarah, latar belakang, dan detail lainnya sebaiknya memperkuat alur cerita ini. Percabangan alur cerita mutlak harus dihindari.</p>
<p><strong>Karakter</strong><br />
Jangan menggunakan jumlah karakter yang terlalu banyak. Semakin banyak karakter bisa membuat cerita Anda menjadi terlalu panjang dan tidak fokus pada tema. Gunakan karakter secukupnya yang sesuai dengan alur cerita.</p>
<p><strong>Sepenggal kisah hidup</strong><br />
Namanya saja cerita pendek, sehingga cerpen hanya menceritakan tentang sekelumit kisah dalam hidup karakter yang Anda buat. Jika karakter Anda memiliki kisah hidup yang sangat panjang, tulis hanya sebagai background yang menjadi penguat tema cerita tersebut. Tekankan hanya pada satu bagian dari hidupnya untuk ditulis.</p>
<p><strong>Penggunaan kata</strong><br />
Bagaimanapun cerpen memiliki keterbatasan dalam jumlah kata yang bisa dipakai, apalagi cerita super pendek seperti flash fiction. Seringkali majalah atau koran tertentu benar-benar membatasi jumlah kata yang bisa dipakai. Jadi, Anda sebaiknya menggunakan pilihan kata yang efisien dan menghindari menggunakan kalimat deskriptif yang berpanjang-panjang.</p>
<p><strong>Impresi</strong><br />
Secara tradisional, cerpen dimulai dengan pengenalan karakter, konflik, dan resolusi. Alternatif lain, adalah Anda dapat membuat impresi pada pembaca justru pada awal cerita, dengan langsung menghadirkan konflik. Karakter Anda sudah berada di dalam kekacauan besar. Hal ini akan membuat pembaca semakin penasaran, ada apa yang terjadi sebenarnya, bagaimana karakter tersebut akan mengatasi persoalannya. Pengenalan karakter, setting, dll dapat dilakukan secara perlahan-lahan di bagian cerita berikutnya.</p>
<p><strong>Kejutan</strong><br />
Beri kejutan pada pembaca di akhir cerita. Hindari membuat akhir cerita yang mudah ditebak.</p>
<p>Konklusi<br />
Jangan biarkan pembaca meraba-raba dalam gelap pada akhir cerita Anda. Pastikan konklusi di akhir cerita Anda memuaskan, tetapi juga tidak mudah ditebak. Pembaca perlu dibuat berkesan pada akhir cerita, tentang apa yang terjadi pada karakter tersebut. Akhir cerita yang mengesankan akan selalu diingat oleh pembaca, bahkan setelah lama mereka selesai membaca cerita tersebut.</p>
<p><a href="http://www.rumahdunia.net/wmview.php?ArtID=571">oleh Didik Wijaya<br />
Copyright Penerbit Escaeva </a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/02/tips-menulis-cerpencerita-pendek/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pengembangan dari Alur Pendek</title>
		<link>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/02/pengembangan-dari-alur-pendek/</link>
		<comments>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/02/pengembangan-dari-alur-pendek/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 03:46:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iman safri lukman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[tips menulis cerpen]]></category>

		<category><![CDATA[pengembangan dari alur pendek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapendek.blog.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[    Sebelum membaca tulisan ini, baca dulu tulisan sebelumnya tentang Tips Menggali Cerita. Baiklah, sekarang mari kita kembangkan metode Alur Pendek untuk menjadi bahan sebuah cerita. Caranya adalah dengan mempertanyakan kembali jawaban yang sudah Anda berikan sebelumnya.
Contoh:
TEMA APA YANG INGIN ANDA CERITAKAN?
Jawab: Tentang dunia pelacuran.
Pertanyaan: Kenapa dunia pelacuran?
Jawab: Barangkali dunia pelacuran bukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>    Sebelum membaca tulisan ini, baca dulu tulisan sebelumnya tentang Tips Menggali Cerita. Baiklah, sekarang mari kita kembangkan metode Alur Pendek untuk menjadi bahan sebuah cerita. Caranya adalah dengan mempertanyakan kembali jawaban yang sudah Anda berikan sebelumnya.</p>
<p>Contoh:</p>
<p>TEMA APA YANG INGIN ANDA CERITAKAN?</p>
<p>Jawab: Tentang dunia pelacuran.</p>
<p>Pertanyaan: Kenapa dunia pelacuran?</p>
<p>Jawab: Barangkali dunia pelacuran bukan sesuatu yang menarik untuk diceritakan. Tapi percayalah, saya akan menceritakan sesuatu hal yang mengasyikkan tentang tokoh-tokohnya.</p>
<p>KEJADIAN APA YANG MENJADI KUNCI DALAM CERITA?</p>
<p>Jawab: Si pelacur di booking oleh salah seorang pejabat yang ia kenali.</p>
<p>Pertanyaan: Bukankah itu hal yang sudah biasa? Sebagai publik figur, tidak aneh jika seorang pejabat dikenali banyak orang. Tolong deskripsikan lebih detil lagi maksud ‘ia kenali’ tersebut.</p>
<p>Jawab: Saya tidak akan tergesa-gesa menceritakan bahwa sebenarnya pelacur itu adalah istri pejabat itu sendiri. Saya akan berusaha mengaduk-aduk pikiran dan perasaan pembaca terlebih dahulu dengan menceritakan seolah-olah mereka tidak saling mengenal. Layaknya seorang lelaki datang ke tempat prostitusi dan saling tawar menawar. Pembaca jelas tidak akan menduga bahwa sebenarnya mereka adalah pasangan suami istri. Dan itulah kejutan dan nikmatnya membaca cerpen ini.</p>
<p>LANTAS BAGAIMANA AKHIRNYA?</p>
<p>Jawab: Pelacur itu ternyata adalah istrinya sendiri.</p>
<p>Pertanyaan: Kok bisa? Jangan mengada-ngada dong. Masa istri seorang pejabat menjadi pelacur?</p>
<p>Jawab: Jika Anda terus bertanya, itu tandanya saya berhasil membuat Anda penasaran. Jika Anda tidak lagi penasaran, berarti Anda akan berhenti membaca cerpen saya.</p>
<p>Pertanyaan: Baiklah. Tapi jurus apa yang Anda gunakan untuk menyingkap sedikit demi sedikit bahwa mereka sebenarnya adalah suami istri?</p>
<p>Jawab: Setelah saya pilih semua koleksi dialog di dalam otak perpustakaan, saya temukan dialog yang cerdas untuk cerpen ini.</p>
<p>Pertanyaan: Kasih tau dong dialognya dan siapa yang mengucapkannya?</p>
<p>Jawab: Hehehe…dialognya diucapkan si tokoh pejabat, “Barangkali di dunia ini hanya akulah lelaki yang harus membayar setelah menggauli istrinya sendiri.”</p>
<p>Pertanyaan: Lantas apa kata si tokoh pelacur, istrinya itu?</p>
<p>Jawab: Kamu pura-pura tidak tahu saja dunia prostitusi. Bayar membayar itu sudah aturan. Atau karena sibuk menjadi pejabat lantas kamu benar-benar lupa?</p>
<p>Pertanyaan: Hehehe…dialog tokoh pejabat tadi membuat saya penasaran. Setelah dijawab istrinya, saya merasa akan ada rahasia lagi yang Anda sembunyikan.</p>
<p>Jawab: Itulah teknik penulisan cerpen-cerpen saya. Jika satu diungkap, maka saya menyediakan misteri lagi di belakangnya.</p>
<p>Pertanyaan: Tapi misteri itu sudah bisa saya tebak.</p>
<p>Jawab: Sengaja saya melakukannya. Setelah membuat pembaca meyakini bahwa pejabat itu pergi ke prostitusi, dan setelah membuat bingung pembaca dengan memberitahu bahwa ternyata pelacur itu istrinya, maka sudah saatnya saya membuat tebak-tebakan kepada para pembaca. Emosi dan pikiran mereka sedang saya aduk-aduk.</p>
<p>Pertanyaan: Apakah tebakan saya bakal salah di akhir cerita ini?</p>
<p>Jawab: Saya tidak akan memberitahukannya kepada siapa pun. Termasuk Anda. Bagaimana rasanya jika saya perlakukan semacam itu? Apakah berani tidak membaca cerpen ini hingga selesai?</p>
<p>Pertanyaaan : Tentu tidak. Saya telanjur penasaran. Dan tentunya saya tidak ingin kecewa ketika mengetahui akhir ceritanya.</p>
<p>Silakan Anda buat sebanyak mungkin pertanyaan-pertanyaan seperti contoh di atas. Siapkan juga jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dengan cara seperti ini, minimal Anda sudah memiliki rencana-rencana yang akan Anda tulis sebagai cerpen.</p>
<p>sumber: http://diskusi.hariesaja.info/14/pengembangan-dari-alur-pendek/#more-24</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/02/pengembangan-dari-alur-pendek/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/01/hello-world/</link>
		<comments>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/01/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 14:42:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iman safri lukman</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to Blog.com. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://blog.com/">Blog.com</a>. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapendek.blog.com/2009/07/01/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
